LAPORAN
PRAKTEK LAPANG
SOSIOLOGI
PETERNAKAN
ISMAH ULFIYAH AZIS
|
TINAR SAPUTRA
|
YAYU YUNITA
|
SERDAM
|
LISNAWATI
|
AHMAD IDHAM NUR
|
EVI HASTRIANI ANGRAENI
|
WIRAWAN ANUGRAH PRATAMA
|
MARWAH
|
ALKISWAR
|
MARIYANI NURMEILANI
|
RIALDIE
|
FAKULTAS
PETERNAKAN
UNIVERSITAS
HASANUDDIN
MAKASSAR
2015
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Peternakan merupakan suatu kegiatan membudidayakan serta
mengembangbiakkan hewan ternak dengan
maksud mendapatkan manfaat serta hasil dari kegiatan tersebut. Sebenarnya
pengertian peternakan itu sendiri bukanlah sebatas pemeliharaan saja, namu
terletak pula pada tujuan yang ditetapkan. Secara umum tujuan peternakan yaitu
untuk mencari keuntungan berdasarkan prinsip-prinsip manajemen pada faktor produksi yang telah disatukan secara optimal.
Pada masa kini, beternak sudah menjadi salah satu komoditif besar didunia dan
mulai dikerjakan dengan berbagai macam teknologi untuk mencapai hasil maksimal.
Peningkatan
produktivitas peternakan melibatkan berbagai aspek yang saling berkaitan, baik itu
lingkungan, manusia maupun ternak itu sendiri. Ketiga aspek melibatkan interaksi
social antara manusia dengan lingkungan, manusia dengan ternak maupun sebaliknya. Interaksi
ini sudah lama dilakukan sejak manusia mulai mengenal system hunting and gathering.
Sehingga kebudayaan berternak ini terus di wariskan kepada keturunan dan berkembang
sampai sekarang.
Sejak jaman dulu, manusia telah mengenal beternak dan
bercocok tanam untuk memenuhi kebutuhannya akan makanan. Maka dari itu, sistem
kebudayaan dan peternakan saling berkaitan. Sistem kebudayaan merupakan
ide dan gagasan manusia yang hidup bermasyarakat. Ide manusia tersebut tidak
terlepas melainkan berkaitan satu dengan lainnya dalam sebuah sistem. Oleh karena
itu sistem budaya adalah salah satu bagian dari kebudayaan , yaitu adat istiadat
yang didalamnya termasuk sistem norma, nilai budaya, dan semua norma yang hidup
dan berkembang di masyarakat. Sehingga kebudayaan berternak ini terus di wariskan
kepada keturunan dan berkembang sampai sekarang
Bahwa segala sesuatu
dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dilmiliki oleh masyarakat itu
sendiri. Masyarakat yang dimaksud disini lebih mengkhusus pada masyarakat
peternakan. Budaya beternak yang telah turun temurun diwariskan dari generasi
generasi memiliki ciri khas tersendiri dari berbagai daerah. Berdasarkan hal tersebut,
maka dilaksanakanlah praktek lapang mengenai Sistem Kebudayaan Masyarakat
Peternakan yang bertempat di desa Tibona Kec. Bulukumba Kabupaten Bulukumba.
Maksud dan Tujuan
Maksud
dari diadakannya praktik lapang sosiologi peternakan adalah agar dapat
mengetahui bagaimana sistem kebudayaan masyarakat peternakan sapi potong di
desa Tibona Kecamatan Bulukumba Kabupaten Bulukumba mengenai sistem kebudayaan
masyarakat peternakan sapi potong.
Tujuan diadakannya praktek lapang
sosiologi peternakan adalah:
1.
Menambah pengetahuan tentang sistem
kebudayaan masyarakat peternakan sapi potong.
2.
Mengetahui dan memahami sistem
kebudayaan masyarakat peternakan sapi potong.
3.
Membandingkan dengan teori yang
didapatkan dalam perkuliahan dengan praktek lapangan mengenai Sistem Kebudayaan
dalam Masyarakat Peternakan Sapi Potong.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Tinjauan umum
sapi potong
Dari sejarahnya, semua bangsa sapi
yang dikenal di dunia berasal dari Homacodontidae yang dijumpai pada zama
Palaeocene. Adapun jenis primitifnya ditemukan pada zaman Pliocene di India,
Asia. Perkembangan dari jenis-jenis primitive itulah yang samapai sekarang
menghasilkan tiga kelompok nenek moyang sapi hasil penjinakan yang kita kenal
(Murtidjo, 2012).
Sejarah
pemeliharaan sapid an perkembangan populasinya di Indonesia, terutama sapi
potong, mengalami pasang surut yang fluktuatif. Hal ini dipengaruhi oleh
berbagai kebijakan pemerintah dan kondisi perekonomian masyarakat secara
global. Sejak zaman colonial Belanda, terutama sejak didirikan pabrik-pabrik
gula (130-1835), telah dilakukan pemeliharaan sapi yang tujuan utamanya sebagai
sumber tenaga kerja untuk menggarap lahan pertanian dan penarik kendaraan
pengangkut tebu (Zainal Abidin, 2008).
Sapi
potong adalah sapi-sapi yang mempunyai kemampuan untuk memproduksi daging
dengan cepat, pembentukan karkas baik dengan komposisi perbandingan protein dan
lemak seimbang hingga umur (Kariyasa, 2005).
Ternak sapi, khususnya sapi potong,
merupakan salah satu sumber daya penghasil daging yang memiliki nilai ekonomi
tinggi, dan penting artinya di dalam kehidupan masyarakat. Seekor atau kelompok
ternak sapi bisa menghasilan sebagai macam kebutuhan, terutama sebagai bahan
makanan berupa daging, di samping hasil ikutan lainnya seperti pupuk kandang,
kulih, dan tulang (Sudarmono dan Sugeng, 2008)
Permintaan
terhadap sapi potong dari tahun ke tahun terus meningkat. Sementara itu,
pasokan sapi potong dari dalam negeri belum dapat memenuhi semua permintaan
yang ada. Hal ini dapat dilihat dari program swasembada sapi potong yang
seharusnya dicapai pada tahun 2010, dimundurkan menjadi tahun 2014. Mundurnya
target ini jelas bermakna jumlah populasi sapi potong dalam negeri belum bisa
memenuhi 90% dari kebutuhan konsumsi masyarakat Indonesia. Pemerintah sendiri
terpaksa terus mengimpor sapi, terutama berupa bakalan sapi potong. Pasalnya,
usaha pembibitan sapi di dalam negeri belum mampu memenuhi kebutuhan sapi
bakalan untuk digemukkan ataupun dibibitkan kembali (Fikar dan Ruhyadi, 2010).
Menurut
Purnawan Yulianto dan Cahyo Saparinto, 2010 jenis sapi potong yang ada di
Indonesia untuk usaha pembesaran. Untuk perbaikan kualitas sapi potong yang
akan diternakkan, sebaiknya peternak harus mengetahui jenis-jenis sapi yang
ada, baik sapi yang banyak di Indonesia sehingga banyak dijumpai di beberapa
daerah di Indonesia.
Di dalam negeri, pemeliharaan sapi
potong biasanya dilakukan secara
tradisional. Sapi-sapi hanya diberi pakan seadanya tanpa memperhatikan jumlah
dan kandungan zat gizi dalam pakan. Peternak juga tidak memperhatikan kebutuhan
pakan sapi untuk pertumbuhan yang optimal. Akibatnya, pertambahan berat badan
sapi yang dipelihara tidak optimal sudah cukup tinggi, seperti rumput gajah
atau rumpu benggala. Namun, konsentrat yang diberikan bukanlah konsentrat yang
sebenarnya, hanya berupa campuran ampas tahu dan dedak padi. Kedua bahan pakan
tersebut harganya relative murah. Dengan pemberian bahan pakan ini, pertumbuhan
sapi diharapkan bisa di pacu lebih cepat dan waktu pemeliharaan bisa
dipersingkat (Soeprapto dan Abidin, 2006).
Di luar negeri, penggemukan sapi
dikenal dengan sistem pasture fattening, dry lot fattening dan kombinasi
keduanya, sedangkan di Indonesia dikenal dengan sistem kereman atau sistem
paron (Timor). Cara penggemukan sapi secara modern dilakukan dengan menggunakan
prinsip feedlot, yaitu pemberian pakan sapi terdiri dari hijauan dan konsentrat
yang berkualitas di dalam kadang (Soeprapto dan Abidin, 2006).
Rendahnya kuliatas bakalan di
Indonesia menjadi permasalahan tersendiri. Hal ini disebabkan pedet yang
dihasilkan merupak hasil sampingan dari usaha penggemukan. Jumlah pedet yang
dihasilkan khusus dari usaha pembibitan sangat sedikit. Jika peternak ingin
bakalan berkualitas, harganya mahal karena harus diimpor dari luar negeri atau
membeli dari perusahaan pembibitan sapi potong. Masalah ini dapat diatasi
dengan mencoba membibitkan sendiri atau membeli bakalan berkualitas dari
peternakan yang sudah sering membibitkan sapi (Fikar dan Dadi, 2010).
Dalam
usaha ternak sapi potongterjadi adanya segmentasi pada waktu pemeliharaan dan
pemasaran produknya.hal ini kemungkinan dapat terjadi karena anakan sapi lahir
hingga dewasa membutuhkan waktu pemeliharaan cukup lama, yaitu sekitar 2-3
tahun. Adanya segmentasi bisnis dalam proses produksi ternak sapi ini
memberikan beberapa keuntungan, di antaranya resiko usaha dibagi kepada lebih
banyak pihak yang berkecimpung dalam bisnis ternak sapi tersebut, waktu
produksi lebih singkat, menggerakkan perekonomian local karena menumbuhkan
lebih banyak pelaku usaha dan terjadi proses jual beli di antara mereka, dan
bisnis sapi potong relative kuat dan tahan bantung menghadapi permasalahan
ekonomi, baik mikro maupu makro (Purnawan dan Cahyo, 2010)
Pengertian
Sosiologi
Pada saat sosiologi masih dianggap
sebagai ilmu yang bernaung di dalam filsafat dan disebut dengan nama filsafat
social, materi yang dibahas tidak dapat dikatakan sebagai ilmu sosiologi yang
dikenal seperti saat ini karena pada saat itu materinya masih mengandung unsure
etika, yaitu materi tentang seharusnya masyarakat itu atau das sollen. Adapun sosiologi yang berkembang saait ini merupakan
ilmu tentang bagaimana kenyataan masyarakat itu atau das sein. (Janu, 2007).
Sosiologi
berasal dari dua kata, yaitu socious
dan logos. Socious berarti berteman
dan logos berarti ilmu. Secara
singkat dapat ditegaskan bahwa sosiologi, adalah ilmu tentang kehidupan
bersama. Kehidupan bersama yang dimaksudkan dalam ilmu sosiologim adalah
kehidupan bersama dalam masyarakat (Abdullah, 2008).
Menurut
August Comte sosioligi, adalah ilmu yang mempelajari struktur social (social statics) dan perubahan social (social dynamics). Meski keduanya
dimaksudkan untuk menemukan kaidah hukum dalam kehidupan social, ia merasa
bahwa perubahan social lebih penting daripada struktur social (Abdulllah,
2008).
Menurut
Abdullah, 2008 Berikut, beberapa definisi sosiologi yang dikemukanakan oleh
beberapa Sosiolog dunia.
1. Peter L. Berger menyatakan Sosiologi
adalah studi ilmiah mengenai hubungan
antara masyarakat dan individu.
2. Max Weber menyatakan Sosiologi adalah ilmu
yang berhubungan dengan pemahanan interpretative mengenai tindakan social.
Selain itu, berhubungan dengan suatu penjelasan kausal mengenai arah dan
konsekuensi tindakan social itu.
3. Auguste Comte menyatakan Sosiologi merupakan
ilmu positif tentang masyarakat sehingga sosiologi menurutnya merupakan suatu
ilmu yang bertujuan mengetahui masyarakat, dan dengan pengetahuan itu seseorang
dapat menjeleskan, meramal, dan mengontrol masyarakat. Artinya, Sosiologi
merupakan suatu studi ilmiah tentang
masyarakat.
4. Emile Durkheim menyatakan Sosiologi adalah
ilmu yang mempelajari fakta social, dan fakta social bukanlah fakta individual.
Fakta social adalah setiap cara bertindak yang umumnya terdapat dalam suatu
masyarakat tertentu, yang sekaligus memiliki eksistensinya sendiri dengan cara
dan dunianya sendiri, terlepas dari manifestasi-manifestasi individu, misalnya
kebiasaan, peraturan, norma (hukum), dan masyarakat yang merupakan contoh fakta
social paling besar dan umu.
5. Pitirim A. Sorokin menyatakan Sosioogi
adalah ilmu yang mempelajari:
a. Hubungan dan
pengaruh timbal balik antaraneka macam gejala social, misalnya antara ekonomi
dan agama serta keluarga dan moral;
b. Hubungan dan
pengaruh timbale balik antara gejala social dan gejala nonsosial, misalnya
antara gejala social dan gejala biologis;
c.
cirri-ciri umum dari semua jenis gejala social.
6. Roucek dan Warren menyatakan Sosiologi
merupakan ilmu yang mempelajari hubungan antarmanusia dalam kelompok-kelompok.
7. William F. Ogburn dan Meyer F. Nimkoff
menyatakan Sosiologi adalah penelitian secara ilmiah terhadap interaksi social
yang hasilnya, yaitu organisasi social.
8. Selo Soemardjan dan Soelaeman Soemardi
menyatakan Sosiologi merupakan ilmu yang mempelajari struktur social,
proses-proses social dan perubahan social. Struktur social adalah keseluruhan
jaringan antarunsur social yang pokok, yaitu kaidah-kaidah social (norma-norma
social), lembaga-lembaga social, kelompok-kelompok serta lapisan-lapisan
social. Adapun proses-proes social adalah pengaruh timbale balik antarberbagai
segi kehidupan bersama, misalnya antara kehidupan ekonomi dan politik.
9. Soerjono Soekanto menyatakan Sosiologi
merupakan ilmu yang memusatkan perhatian pada segi-segi kemasyarakatan yang
bersifat umum dan berusaha untuk mendapatkan pola-pola umum darinya.
10. William Kornblum menyatakan Sosiologi adalah suatu
upaya ilmiah untuk mempelajari masyarakat dan perilaku social anggotanya dan
menjadikan masyarakat yang bersangkutan dalam berbagai kelompok dan kondisi.
Isu-isu sistem kebudayaan
Ketika
masyarakat menjadi makin beragam dalam hal ras
dan etnis, isu-isu budaya dan identitas menjadi hal yang penting. Para
peneliti telah menyerukan pencakupan keberagaman dalam definisi mengenai
keluarga, dalam hubungan kencan dan di dalam politik. Tetapi,, jauh lebih banyak perhatian
dibutuhkan pada isu-isu mengenai keberagaman budaya dan ras. Mengubah struktur
institusional yang ada saat ini untuk merangkul masyarakat yang lebih beragam,
permasalahan bahasa dan nilai budaya saat tenaga kerja menjadi semakin beragam
(West dan Turner, 2008)
Setiap kebudayaan mengajarkan
cara-cara tertentu untuk memproses informasi yang masuk dan keluar ’dari dan
ke’ sekeliling mereka, misalnya mengatur bagaimana setiap anggota budaya
memahami proses pertukaran informasi maupun kemasan informasi itu sendiri.
Beberapa kebudayaan berhasil membangun suatu harapan ke dalam sistem mereka
sehingga anggptanya otomatis mengetahuo apa yang harus dibuat untuk merespons
informasi pada saat dan situasi yang tepat, sebaliknya barangkali kebudayaan
lain tidak mempunyai asumsi ini. Beberapa kebudayaan juga tidak mewajibkan pada
anggotanya suatu perhatian yang tinggi terhadap informasi, apalagi informasi
itu bersifat rutin dan ritual, juga tentang bagaimana mereka harus berperilaku
yang sama dalam menanggapi informasi. Artinya, ada pula kebudayaan yang mengajarkan
cara-cara yang lebih praktis dalam meproses informasi, meskipun informasi itu
dipertukarkan dalam sejumlah situasi yang berbeda-beda (Liliweri, 2007).
Kata “kebudayaan” berasal dari
bahasa Sanskerta buddhayah, bentuk jamak dari buddhi yang berarti “budi” atau
“akal”. Jadi, secara sederhana kebudayaan dapat diartikan sebagai keseluruhan
gagasan, karya, dan akal budi manusia yang diciptakannya dengan sengaja dan
terus dikembangkan demi kepentinga, kebutuhan, kesejahteraan, kedamaian,
kemakmuran, kepuasan hidupnya (Supriatna, 2005).
Dalam studi budaya sebagai bidang
akademis, “teori kebudayaan” dipahami sebagai bacaan atau studi yang bertujuan
mengembangkan sarana atau alat untuk menjelaskan sifat-sifat, cirri-ciri
kebudayaan, dan implikasinya pada kehidupan bermasyarakat. Secara garis besar
ada tiga isu utama dalam bidang ini. Pertama, masalah isi di mana teori
merupakan alat untuk memahami apa yang membentuk kebudayaan seperti nilai,
aturan, narasi, ideology, patologi, wacana, akal sehat, dan banyak hal lain.
Kedua, implikasi social, di mana teori berusaha menunjukkan model-model
pengaruh kebudayaan terhadap struktur social dan kehidupan social. Ketiga, soal
hubungan antara kebudayaan dan individu: antara tindakan/aksi, pelaku/agen, dan
diri/ self (Sutrisni dan Putranto, 2005).
Dalam pemikiran pluralism
kebudayaan, setiap kebudayaan ditanggapi dan diakui keberadaanya sebagaimana
adanya. Akibatnya, keanekaragaman kebudayaan adalah fakta, sedangkan dominannya
suatu kebudayaan adalah akibat dari sifat-sifat intrinsic kebudayaan tersebut.
Jika isu dan persoalan global seperti demokrasi dan hak asasi manusia
dihadapkan pada pendekatan pluralism kebudayaan, maka tampak keduanya berada
pada kedudukan yang tak sejalan (Sumarto, 2004).
Stella
Ting-Toomey dan Leeva Chung (1996) menyatakkan bahwa identitas merupakan isu
yang bermakna untuk berteori dalam bidang komunikasi di masa depan. Mereka
melihat bahwa dengan adanya banyak pernikahan lintas budaya di Amerika Serikat.
Lebih jauh lagi, mereka mengamati bahwa isu dender dan identitas etnis
membutuhkan lebih banyak kerangka konseptual (West dan Turner, 2008).
Masyarakat
pedesaan di Indonesia bisa dikatakan sebagai masyarakat petani, dan di dalamnya
termasuk mereka berkecimpung di bidang peternakan. Walaupun telah terjadi
pergeseran-pergeseran dalam sector pekerjaan, basis utamanya masih didominasi
oleh kegiatan pertanian. Masyarakat pedesaan yang agraris sering digambarkan
sebagai masyarakat dengan budaya tertutup. Berbudaya homogeny serta adanya
dominasi ikatan tradisional dengan struktur supra desa yang bersifat feudal dan
kolonial (Kuntowijoyo, 1993).
Manfaat Sistem Kebudayaan
Sistem budaya merupakan komponen dari kebudayaan yang
bersifat abstrak dan terdiri dari pikiran,gagasan,konsep, serta keyakinan dengan
demikian Sistem Kebudayaan merupakan bagian dari kebudayaan yang dalam bahasa
indonesia disebut Adat Istiadat. Dalam adat istiadat terdapat sistem norma dan
di situlah fungsi Sistem Budaya adalah menata serta menetapkan tindakan dan
tingkah laku manusia (Daeng, 2000).
Sistem adalah sekumpulan unsur / elemen
yang saling berkaitan dan saling mempengaruhi dalam melakukan kegiatan bersama
untuk mencapai suatu tujuan.
Suatu
sistem terdiri dari komponen yang saling berinteraksi , artinya saling bekerja
sama membentuk satu kesatuan. Komponen - komponen dari suatu sistem biasanya
dikenal dengan subsistem (Amsya, 1997).
Subsistem ini mempunyai sifat-sifat dari
sistem itu sendiri dalam menjalankan suatu fungsi tertentu dan mempengaruhi
proses sistem secara keseluruhan. Suatu sistem juga mempunyai sistem yang lebih
besar yang dikenal dengan Suprasistem
(Amsya, 1997).
Menurut Amsya (1997) pada prinsipnya, setiap sistem selalu
terdiri atas empat elemen:
1. Objek, yang dapat berupa bagian, elemen,
ataupun variabel. Ia dapat benda fisik, abstrak, ataupun keduanya sekaligus;
tergantung kepada sifat sistem tersebut.
2. Atribut, yang menentukan kualitas atau
sifat kepemilikan sistem dan objeknya.
3. Hubungan internal, di antara objek-objek di dalamnya.
4.
Lingkungan, tempat di mana sistem berada.
Menurut Leman, 1997 Ada beberapa elemen yang membentuk
sebuah sistem, yaitu : tujuan, masukan, proses, keluaran, batas, mekanisme
pengendalian dan umpan balik serta lingkungan. Berikut penjelasan mengenai
elemen-elemen yang membentuk sebuah sistem :
1. Tujuan; Setiap sistem memiliki tujuan
(Goal), entah hanya satu atau mungkin banyak. Tujuan inilah yang menjadi
pemotivasi yang mengarahkan sistem. Tanpa tujuan, sistem menjadi tak terarah
dan tak terkendali. Tentu saja, tujuan antara satu sistem dengan sistem yang
lain berbeda.
2. Masukan; Masukan (input) sistem adalah
segala sesuatu yang masuk ke dalam sistem dan selanjutnya menjadi bahan yang
diproses. Masukan dapat berupa hal-hal yang berwujud (tampak secara fisik)
maupun yang tidak tampak. Contoh masukan yang berwujud adalah bahan mentah,
sedangkan contoh yang tidak berwujud adalah informasi (misalnya permintaan jasa
pelanggan).
3. Proses; Proses merupakan bagian yang
melakukan perubahan atau transformasi dari masukan menjadi keluaran yang
berguna dan lbih bernilai, misalnya berupa informasi dan produk, tetapi juga
bisa berupa hal-hal yang tidak berguna, misalnya saja sisa pembuangan atau
limbah. Pada pabrik kimia, proses dapat berupa bahan mentah. Pada rumah sakit,
proses dapat berupa aktivitas pembedahan pasien.
4. Keluaran; Keluaran (output) merupakan hasil
dari pemrosesan. Pada sistem informasi, keluaran bisa berupa suatu informasi,
saran, cetakan laporan, dan sebagainya.
5. Batas; Yang disebut batas (boundary)
sistem adalah pemisah antara sistem dan daerah di luar sistem (lingkungan).
Batas sistem menentukan konfigurasi, ruang lingkup, atau kemampuan sistem.
Sebagai contoh, tim sepakbola mempunyai aturan permainan dan keterbatasan
kemampuan pemain. Pertumbuhan sebuah toko kelontong dipengaruhi oleh pembelian
pelanggan, gerakan pesaing dan keterbatasan dana dari bank. Tentu saja batas
sebuah sistem dapat dikurangi atau dimodifikasi sehingga akan mengubah perilaku
sistem. Sebagai contoh, dengan menjual saham ke publik, sebuah perusahaan dapat
mengurangi keterbasatan dana.
6. Mekanisme Pengendalian dan
Umpan Balik; Mekanisme
pengendalian (control mechanism) diwujudkan dengan menggunakan umpan balik
(feedback), yang mencuplik keluaran. Umpan balik ini digunakan untuk
mengendalikan baik masukan maupun proses. Tujuannya adalah untuk mengatur agar
sistem berjalan sesuai dengan tujuan.
7. Lingkungan; Lingkungan adalah segala sesuatu
yang berada diluar sistem. Lingkungan bisa berpengaruh terhadap operasi sistem
dalam arti bisa merugikan atau menguntungkan sistem itu sendiri. Lingkungan
yang merugikan tentu saja harus ditahan dan dikendalikan supaya tidak
mengganggu kelangsungan operasi sistem, sedangkan yang menguntungkan tetap
harus terus dijaga, karena akan memacu terhadap kelangsungan hidup sistem.
Kebudayaan
Masyarakat Peternakan
Pola mata pencarian beternak akan memengaruhi tipe dari
sosial budaya masyarakat yang melakukannya, dan ini tergambar pada bagaimana
teknologi yang dipakai melalui kebudayaannya dan terwujud dalam pranata sosial
beternak ketika beradaptasi dengan lingkungan yang ada. Masyarakat peternak di
Indonesia pada dasarnya lebih didominasi oleh masyarakat-masyarakat peternak di
Indonesia pada dasarnya lebih didominasi oleh masyarakat-masyarakat dsidi
daerah Nusa Tenggara (Mundardjito,
2009)
Tidak banyak orang tahu bagaimana sebenarnya pola hidup
masyarakat peternak ini yang mempunyai sistem teknologi yang spesifik dan
sangat unik, berbeda dengan tipe sosial budaya masyarakat lainnya. Biasanya
kehidupan masyarakat dengan tipe sosial budaya peternak ini hidup dalam
lingkungan alam yang luas dan terbuka sesuai dengan gambaran sebuah peternakan.
Daerah atau lingkungan alam dari masyarakat peternak ini berupa ladang rumput
yang luas, yang pada dasarnya tidak dapat dipergunakan untuk menjalankan sistem
mata pencarian lainnya selain dari beternak. Disini yang dijadikan contoh
masyarakat beternak adalah orang Bima (Mundardjito,
2009).
Menurut Mundardjito (2009), di Indonesia, masyarakat yang
menggantungkan hidupnya dari usaha beternak dengan prinsip mengambil sesuatu
dari hewan yang dipelihara untuk kebutuhan hidupnya sebagai mata pencarian
mereka, dapat digolongkan ke dalam beberapa kategori, seperti :
1. Mengusahakan ternak dengan
menggembalakannya sesuai dengan lokasi lahan di mana terdapat pakan ternaknya,
sehingga kehidupan masyarakat yang bersangkutan mengikuti pergerakan ternaknya.
2. Mengusahakan ternak dengan
mengandangkannya untuk kemudian memanfaatkan sesuatu dari hewan ternak
tersebut, serta menjualnya sebagai barang dagangan.
3. Mengusahakan
ternak guna pelengkap dari suatu mata pencarian pokok lainnya.
BAB III
METODOLOGI
PRAKTEK LAPANG
Waktu
dan tempat
Praktek lapang sosiologi peternakan
mengenai sistem kebudayaan dalam masyarakat peternakan sapi potong di
laksanakan pada har Jumat-Minggu, pada tanggal 3-5 April 2015 di Desa Tibona,
Kec Bulukumpa, Kab Bulukumba, Sulawesi Selatan.
Jenis
dan Sumber Data
Data yang digunakan dalam praktek
lapang sosiologi peternakan mengenai sistem kebudayaan dalam masyarakat
peternakan sapi potong
1. Data Kuantitatif
Data
kuantitatof yaitu data yang berbentuk pernyataan/kalimat yang menggambarkan dan
menjelaskan indikator-indikator dari
peternakan sapi potong yang di amati.
2. Data Kualitatif
Data kualitatif adalah data yang
berbentuk kata-kata, kalimat, dan tanggapan yang berhubungan dengan penelitian.
Adapun sumber data yang digunakan
pada praktek lapang sosiologi peternakan mengenai sistem kebudayaan dalam
masyarakat peternakan sapi potong adalah
1. Data primer
Data primer merupakan data yang
bersumber dari hasil wawancara kuisioner.
2. Data sekunder
Data sekunder yaitu data yang
bersumber dari dokumen, buku serta laporan-laporan yang berkaitan dengan
praktek lapang.
Motode
Pengambilan Data
Adapun metode pengambilan data dalam
praktek lapang sosiologi peternakan mengenai sistem kebudayaan masyarakat sapi
potong yaitu dengan cara
a. Observasi
Observasi yaitu pengambilan data
yang di lakukan melalui pengamatan langsung terhadap objek yang akan dilakukan.
b. Wawancara
Wawancara yaitu melakukan wawancara
langsung dengan pihak masyarakat mengenai variable;-variabel penelitian dan
menggunakan bantuan kuisioner.
c. Study Kepustakaan
Study kepustakaan yaitu berdasarkan
beberpa buku sebagai literature dan landasan teori yang berhubungan dengan
praktik ini.
Kegiatan
yang dilakukan
Adapun kegiatan-kegiatan yang
dilakukan selama praktek lapang sosiologi peternakan mengenai sistem kebudayaan
masyarakar sapi potong yaitu:
a. Kuisioner
Kuisioeer yaitu kegiatan wawancara
dan Tanya jawab scara langsung dengan peternak dengan pertanyaan—pertanyaan
yang telah disiapkan terlebih dahulu.
BAB IV
HASIL DAN
PEMBAHASAN
Profil
Wilayah dan Gambaran Kondisi Wilayah
Administrasi
Wilayah
Berdasarkan data sekunder praktek
lapang sosiologi peternakan mengenai
sistem kebudayan masyarakat sapi potong di Desa Tibona Kec. Bulukumpa, Kab.
Bulukumba, Sulawesi Selatan di peroleh data administrasi wilayah seperti
berikut:
1. Ulu Galung
2. Montosumanga
3. Padang mallabo
4. Tibona
5. Sumpangak
6. Mattoanging
Kondisi Geografis
Berdasarkan data sekunder praktek lapang sosiologi peternakan mrngenai
sistem kebudayaan masyarakat sapi potong, Desa Tibona berada pada batas Sebelah
Utara yang bersebelahan dengan Kabupaten Sinjai, Sebelah selatan yaitu Desa
Bontominasa kecamatan Bulukumpa, Sebelah timur yaitu Desa Sangkala kecamatan
Kajang, dan Sebelah Barat kelurahan jawi-jawi kecamatan Bulukumpa.
Potensi
Sumber Daya Alam
Berdasarkan data sekunder praktek
lapang sosiologi peternakan mengenai sistem kebudayaan masyarakat sapi potong
di Desa Tibona, Kec Bulukumpa, Kab. Bulukumba, Sulawesi Selatan di peroleh data
potensi sumber daya alam seperti pada tabel berikut
Tabel
1 Identitas Responden
No.
|
Jenis Potensi
|
Jumlah/Volume
|
1
|
Luas
perkebunan
|
1,408 Ha/m²
|
2
|
Luas
pemukiman
|
5,250 Ha/m²
|
3
|
Luas
persawahan
|
171,86 Ha/m²
|
4
|
Luas
kuburan
|
4,25 Ha/m²
|
5
|
Luas
pekarangan
|
0,29 Ha/m²
|
6
|
Pengkantoran
|
3,60 Ha/m²
|
7
|
Luas
prasarana umum lainnya
|
12,75 Ha/m²
|
Sumber:
Data sekunder praktek lapang sosiologi peternakan, 2015.
Berdasarkan tabel 1 di atas dapat di
ketahui bahwa jenis potensi sumber daya alam yang terdapat di Desa Tibona Kec.
Bulukumpa, Kab. Bulukumba, Sulawesi Selatan terdiri atas luas pemukiman 5,250
ha/m2, persawahan seluas 171,86 ha/m2 , perkebunan seluas
1,408 ha/m2, kuburan seluas 425 ha/m2, pekarangan seluas
0,29 ha/m2, perkantora seluas 3,60 ha/m2 dan luas
prasaran umum lainnya 12,75 ha/m2.
Kondisi
Ekonomi
Berdasarkan data sekunder praktek
lapang sosiologi peternakan mengenai sistem kebudayaan masyarakat sapi potong,
Desa Tibona, Kec. Bulukumpa, Kab. Bulukumba, Sulawesi Selatan di ketahui bahwa
kondisi social ekonomi di wilayah setempat tergolong sebagai wilayah agraris
yang mayoritas wilayahnya terdiri dari hamparan areal persawahan yang luasnya
mencapai kurang lebih171,86 ha/m2. Kondisi alam yang seperti ini
membawa dampak pada perekonomian yang di dominasi oleh sector pertanian dan
perkebunan. Meskipun begitu, terdapat beberapa pendudukan yang berkerja di
sector lain misalnya sebagai buruh, tukang, pegawai negeri/sipil/swasta, untuk menambah penghasilan masyarakat,
keluarga dan ibu rumah tangga.
Kondisi
Sosial Budaya
Berdasarkan data sekunder praktek
lapang sosiologi peternakan mengenai sistem kebudayaan masyarakat sapi potong
di ketahui bahwa jumlah penduduk di Desa Tibona Kec. Bulukumpa, Kab. Bulukumba,
Sulawesi Selatan.
Tabel
2 Identitas Responden
No
|
Penduduk
|
Persentasi (%)
|
1.
|
Laki-laki
|
39,56
|
2.
|
Perempuan
|
38,30
|
3.
|
Kepala Keluarga
|
22,16
|
Sumber: Data sekunder praktek lapang sosiologi peternakan, 2015.
Jumlah
Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin
Berdasarkan data sekunder praktek
lapang sosiologi peternakan mengenai sistem kebudayaan masyarakat peternakan
sapi potong di ketahui bahwa jumlah penduduk berdasarkan jenis kelamin di Desa
Tibona, Kec. Bulukumpa, Kab. Bulukumba, Sulawesi Selatan di ketahui seperti
pada table berikut
Tabel
3 Identitas Responden
No
|
Jenis
Kelamin
|
Jumlah
Penduduk
|
Persentase
(%)
|
1.
|
Laki-laki
|
2060
|
50,814%
|
2.
|
Perempuan
|
1994
|
49,185%
|
Jumlah
|
4054
|
100%
|
|
Sumber: Data sekunder praktek lapang sosiologi peternakan,
2015.
Berdasarkan tabel 3 di atas maka
dapat diketahui bahwa jumlah penduduk berdasarkan jenis kelamin di Desa Tibona,
Kec. Bulukumpa, Kab. Bulukumba, Sulawesi Selatan di dominasi oleh laki-laki
yaitu sebanyak 2060 jiwa dengan persentase sebesar 50,814% sedangkan penduduk
berjenis kelamin perempuan hanya 1994 jiwa dengan persentase sebesar 49,185%.
Jumlah
Penduduk Berdasarkan Tingkat Mata Pencaharian
Berdasarkan data sekunder praktek
lapang sosiologi peternakan mengenai sistem kebudayaan masyarakat peternakan
sapi potong di ketahui bahwa jumlah penduduk berdasarkan tingkat mata
pencaharian di Desa Tibona, Kec. Bulukumpa, Kab. Bulukumba, Sulawesi Selatan di
ketahui seperti pada tabel berikut:
Tabel
4 Identitas Responden
No.
|
Mata
Pencaharian
|
Jumlah
|
Persentase
(%)
|
|||
1.
|
Petani
|
1000
|
43,308
|
|||
2.
|
Pegawai
Negeri Sipil
|
30
|
1,299
|
|||
3.
|
Pedagang
Keliling
|
2
|
0,086
|
|||
4.
|
Peternak
|
202
|
8,748
|
|||
5.
|
Pembantu
Rumah Tangga
|
1000
|
43,308
|
|||
6.
|
TNI
|
2
|
0,086
|
|||
7.
|
POLRI
|
6
|
0,259
|
|||
8.
|
Pensiunan
PNS/TNI/POLRI
|
10
|
0,433
|
|||
9.
|
Pengusaha
Kecil dan Menengah
|
3
|
0,129
|
|||
10.
|
Dukun
Kampung Terlatih
|
2
|
0,086
|
|||
11.
|
Karyawan
Perusahaan Swasta
|
52
|
2,252
|
|||
Sumber: Data sekunder praktek lapang sosiologi peternakan,
2015.
Berdasarkan tabel 4 di atas maka
dapat diketahui bahwa tingkat mata pencaharian yang paling banyak adalah petani dan pembantu rumah tangga
sebanyak masing-masing 1000 orang dengan persentase 43,308% sedangkan mata
pencaharian yang paling sedikit adalah pedagang keliling, TNI, dan dukun
kampong terlatih sebanyak masing-masing 2 orang dengan persentase 0,086%.
Berdasarkan hal tersebut maka dapat diketahui bahwa kondisi demografi sangat
mempengaruhi tingkat mata pencaharian penduduk wilayah tersebut, yang mana
kondisi wilayah di dominasi persawahan, menjadikan pekerjaan petani menjadi
mata pencaharian yang paling banyak dijalankan oleh masyarakat Desa Tibona,
Kec. Bulukumpa, Kab. Bulukumba, Sulawesi Selatan.
Jumlah
Penduduk Berdasarkan Tingkat Pendidikan
Berdasarkan data sekunder praktek
lapang sosiologi peternakan mengenai sistme kebudayaan masyarakat peternakan
sapi potong di ketahui bahwa jumlah penduduk berdasarkan tingkat pendidikan di
Desa Tibona, Kec. Bulukumpa, Kab. Bulukumba di ketahui seperti pada tabel
berikut:
Tabel
5 Identitas Responden
No
|
Tingkat
Pendidikan
|
Jumlah
Penduduk
|
Persentase
(%)
|
1.
|
Tidak sekolah/Tidak tammat SD
|
1.406
|
38.9
|
2.
|
Sekolah Dasar
|
1.310
|
36.2
|
3.
|
SMP
|
500
|
13.8
|
4.
|
SMA
|
300
|
8.3
|
5.
|
D-2
|
1
|
0.02
|
6.
|
D-3
|
2
|
0.04
|
7.
|
S-1
|
88
|
2.41
|
8.
|
S-2
|
3
|
0.08
|
Sumber : Data sekunder praktek
lapang sosiologi peternakan, 2015
Berdasarkan tabel 5 diatas maka
dapat diketahui bahwa masyarakat Dsekuesa data Tibona, Kec. Bulukumpa, Kab.
Bulukumba Sulawesi Selatan tingkat pendidikan yang paling banyak adalah tamat
SD/sederajat yaitu sebanyak 860 orang
dengan persentase 23,62% sedangkan yang paling sedikit yaitu D-2/sederajat
dengan persentase 0,027%. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat pendidikan di Desa Tibona Kec. Bulukumpa,
Kab. Bulukumba masih tergolong rendah karena mayoritas penduduknya hanya tamat
SD/sederajat.
Keadaan
Khusus Responden
Identifikassi
Responden Berdasarkan Umur
Tabel
6 Identitas Responden
No.
|
Nama
|
Umur ( Tahun )
|
1.
|
Amri
|
|
2.
|
A. Ashal
|
|
3.
|
Haeruddin
|
|
4.
|
Muslimin
|
|
5.
6.
|
Sudirman
Munir
|
|
7.
|
Rami
|
|
8.
|
ferawati
|
|
9.
|
Hasma
|
|
10.
|
Jamaluddin
|
|
11.
|
Rahmat
|
|
12.
|
Sardi
|
|
13.
|
Ismail
|
|
14.
|
Askn
|
|
15.
|
Amnur
|
|
16.
|
Asri
|
|
17.
|
Fitri
|
|
18.
|
Baharuddin
|
|
19.
|
Asri
|
|
20.
|
Rahmatia
|
|
21.
|
Imbacu
|
|
22.
|
Wardi
|
|
23.
|
Hasna
|
|
24.
|
Haris la hendra
|
|
25.
|
Suhardi
|
|
26.
|
Abd. Gani
|
|
27.
|
Ramlia
|
|
28.
|
Asyra
|
|
29.
|
Ramlah
|
|
30.
|
Aki Paroo’
|
|
31.
|
Hamili
|
|
32.
|
A. Ramli
|
|
33.
|
Antuk
|
|
34.
|
Evi
|
|
35.
|
Baji’
|
|
36.
|
Raano
|
|
37.
|
Coke’
|
|
38.
|
Rapido
|
|
39.
|
Syamsuddin
|
|
40.
|
Masna
|
Identifikasi
Responden Berdasarkan Jenis kelamin
Tabel
7 Identitas Responden
No.
|
Nama
|
Jenis Kelamin
|
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
|
Amri
A.
Ashal
Haeruddin
Muslimin
Sudirman
Munir
Rami’
Ferawati
Hasma
Jamaluddin
Rahmat
Sardi
Ismail
Askin
Amnur
Asri
Fitri
Baharuddin
Asri
Rahmatia
Imbacu
Wardi
Hasna
Haris
La Hendra
Suhardi
Abd.
Gani
Ramlia
Asyra
Ramlah
Aki
paro’
Hamili
A.
Ramli
Antuk
Evy
Baji
Rano
Coke’
Rapido
Syamssuddin
Masna
|
L
L
L
L
L
L
P
P
P
L
L
L
L
L
L
L
L
L
L
P
L
L
P
L
L
L
P
P
P
L
L
L
L
P
P
L
L
P
L
P
|
Sumber : Data sekunder Praktek lapang Sosiologi Peternakan,
2015.
Berdasarkan data sekunder prktek lapang sosiologi peternakan
identifikasi resonden berdasarkan jenis kelamin di dapatkan responden yang
paling banyak adalah laki-laki dengan jumlah 29 orang dan yang paling sedkit
adalah perempuan dengan jumlah 12 orang.
Identifikasi responden berdasakan
mata pencaharian
Tabel
8 Identitas Responden
No.
|
Nama
|
Mata Pencaaharian
|
1.
|
Amri
|
Pegawai
|
2.
|
A. Ashal
|
Petani
|
3.
|
Haeruddin
|
Petani
|
4.
|
Muslimin
|
Petani
|
5.
6.
|
Sudirman
Munir
|
Petani
Petani
|
7.
|
Rami
|
petani
|
8.
|
ferawati
|
Berkebun
|
9.
|
Hasma
|
URT
|
10.
|
Jamaluddin
|
Petani
|
11.
|
Rahmat
|
pengusaha
|
12.
|
Sardi
|
karyawan
|
13.
|
Ismail
|
petani
|
14.
|
Askin
|
Petani karet
|
15.
|
Amnur
|
Petani karet
|
16.
|
Asri
|
Peternak
|
17.
|
Fitri
|
URT
|
18.
|
Baharuddin
|
Petani
|
19.
|
Asri
|
Petani
|
20.
|
Rahmatia
|
URT
|
21.
|
Imbacu
|
Petani
|
22.
|
Wardi
|
Perkebunan
|
23.
|
Hasna
|
URT
|
24.
|
Haris la hendra
|
Peternak
|
25.
|
Suhardi
|
Peternak
|
26.
|
Abd. Gani
|
Peternak
|
27.
|
Ramlia
|
URT
|
28.
|
Asyra
|
Petani
|
29.
|
Ramlah
|
Bangunan
|
30.
|
Aki Paroo’
|
Petani
|
31.
|
Hamili
|
Karyawan swasta
|
32.
|
A. Ramli
|
Petani
|
33.
|
Antuk
|
Petani
|
34.
|
Evi
|
URT
|
35.
|
Baji’
|
Petani
|
36.
|
Raano
|
Petani
|
37.
|
Coke’
|
Petani
|
38.
|
Rapido
|
Petani
|
39.
|
Syamsuddin
|
Petani
|
40.
|
Masna
|
Tukang Batu
|
Sumber
: Data sekunder Praktek Lapang sosiologi peternakan, 2015.
Berdasarkan data sekunder praktek
lapang sosiologi peternakan identifikasi responden berdasarkan mata pencaharian
yang paling banyak mata pencaharian responden adalah petani sedangkan yang
paling sedikit adalah pengusaha.
Identifikasi
Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan
Tabel
9 Identitas Responden
No.
|
Nama
|
Tingkat Pendidikan
|
1.
|
Amri
|
S-1
|
2.
|
A. Ashal
|
SLTP
|
3.
|
Haeruddin
|
SD
|
4.
|
Muslimin
|
SD
|
5.
6.
|
Sudirman
Munir
|
SLTP
-
|
7.
|
Rami
|
SD
|
8.
|
ferawati
|
SD
|
9.
|
Hasma
|
SD
|
10.
|
Jamaluddin
|
SLTP
|
11.
|
Rahmat
|
D-3
|
12.
|
Sardi
|
SLTP
|
13.
|
Ismail
|
SD
|
14.
|
Askn
|
SLTP
|
15.
|
Amnur
|
SLTP
|
16.
|
Asri
|
SLTP
|
17.
|
Fitri
|
SD
|
18.
|
Baharuddin
|
SLTP
|
19.
|
Asri
|
SDD
|
20.
|
Rahmatia
|
SLTP
|
21.
|
Imbacu
|
-
|
22.
|
Wardi
|
SLTP
|
23.
|
Hasna
|
SD
|
24.
|
Haris la hendra
|
SLTP
|
25.
|
Suhardi
|
SLTP
|
26.
|
Abd. Gani
|
-
|
27.
|
Ramlia
|
SLTP
|
28.
|
Asyra
|
SD
|
29.
|
Ramlah
|
SLTP
|
30.
|
Aki Paroo’
|
SD
|
31.
|
Hamili
|
SLTP
|
32.
|
A. Ramli
|
SLTP
|
33.
|
Antuk
|
S-1
|
34.
|
Evi
|
SD
|
35.
|
Baji’
|
-
|
36.
|
Rano
|
SLTP
|
37.
|
Coke’
|
-
|
38.
|
Rapido
|
SLTP
|
39.
|
Syamsuddin
|
SLTP
|
40.
|
Masna
|
SD
|
Gambaran
Umum Responden
Berdasarkan praktek lapang sosiologi
peternakan yang telah dilaksanakan di Desa Tibona Kec. Bulukumpa, Kab.
Bulukumba, Sulawesi Selatan di ketahui identitas responden seperti pada tabel
berikut:
Tabel 10 Identitas Responden
NO
|
Nama
|
Umur
|
Jenis Kelamin
|
Pedidikan
|
Pekerjaan
|
1.
|
Aki Paro
|
70
|
L
|
Tamat SD
|
Petani
|
2.
|
Rahmatia
|
42
|
P
|
Tamat SLTP
|
Ibu Rumah Tangga
|
3.
|
Baji
|
38
|
P
|
Tidak sekolah
|
Petani
|
4.
|
Antu
|
48
|
L
|
Tamat SLTP
|
Petani
|
5.
|
Asri
|
49
|
P
|
Tamat SD
|
Buruh
|
Sumber: Data sekunder praktek lapang sosiologi peternakan,
2015.
Berdasarkan tabel 10 di atas maka
dapat di ketahui bahwa 5 dari responden usia paling muda adalah 38 tahun dan
paling tua adalah 70 tahun. Berdasarkan 5 responden terdapat 2 laki-laki dan 3 perempuan dengan tingkat pendidikan
antara SD dan SLTP. Dengan mayoritas penduduk bekerja sebagai petani, sedangkan beternak hanya
sebagai sampingan.
Kajian
Sistem Kebudayaan dalam Masyarakat Peternakan
Bentuk
dan Kegiatan dari Kebudayaan Masyarakat Peternakan
Berdasarkan hasil wawancara kepada
masyarakat peternak Desa Tibona, Kec. Bulukumpa, Kab. Bulukumba, Sulawesi
Selatan di peroleh hasil pendanaan dari peternak tersebut adalah
Tabel 11 Pola Pendanaan
No
|
Pola
Pendanaan
|
Jumlah Responden
|
1
2
3
4
5
|
Pribadi
Pinjam
dari keluarga
Hibah/Bantuan
Pemerintah
Pinjaman
Swasta
Teseng/
Sitem kerjasama
|
25
-
4
1
-
|
Berdasarkan
hasil wawancara kepada peternak Desa Tibona, Kec. Bulukumpa, Kab. Bulukumba,
Sulawesi Selatan di peroleh hasil sistem pemeliharaan yang dilakukan seperti
pada tabel berikut:
Tabel
12 Identitas Responden
No
|
Sistem
Pemeliharaan
|
Jumlah
Responden
|
1
|
Intensif
|
13
|
2
|
Semiintensif
|
17
|
3
|
Tradisional
|
-
|
Pembagian Sistem Pertanggung Jawaban
Berdasarkan
hasil wawancara dari 41 responden peternak Desa Tibona, Kec. Bulukumpa, Kab. Bulukumba,
Sulawesi Selatan, di peroleh hasil bahwa dalam pemeliharaan sapi potong tidak
ada sistem pembagian pertanggung jawaban melainkan pemeliharaan dilakukan secara
pribadi.
Berdasarkan
hasil wawancara kepada peternak Desa Tibona, Kec. Bulukumpa, Kab. Bulukumba,
Sulawesi Selatan, di peroleh hasil
bagaimana integrasi yang dilakukan seperti pada tabel berikut
Tabel
13 Identitas Responden
NO
|
Integrasi
|
Jumlah
Responden
|
1
|
Integrasi
|
2
|
2
|
Tidak
Integrasi
|
28
|
Berdasarkan
hasil wawancara kepada peternak Desa Tibona, Kec. Bulukumpa, Kab. Bulukumba,
Sulawesi Selatan bahwa dari data responden di ketahui bahwa ketika pemasaran
hasil produk peternakan pembeli akan datang sendiri untuk menawarkan membeli
sapi ada juga yang pemilik sapi yang langsung menawarkan kepada pembeli.
Pengaruh
Sistem Kebudayaan Masyarakat Peternakan
Berdasarkan
dari hasil wawancara masyarakat peternak Desa Tibona, Kec. Bulukumpa, Kab.
Bulukumba di peroleh hasil bahwa hanya terdapat 2 dari beberapa responden yang
di wawancarai yang melakukan integrasi
terhadap hewan ternaknya, mereka menggunakan sapi mereka untuk membajak di
sawah.
Peran
Masyarakat dalam Meningkatkan Sistem Kebudayaan
Berdasarkan dari hasil wawancara
masyarakat peternak Desa Tibona, Kec. Bulukumpa, Kab. Bulukumba di peroleh
hasil bahwa hanya ada beberapa dari responden yang bergabung dengan organisasi
yang terdapat di Desa Tibona dan semuanya hanya sebagai anggota.
BAB V
KESIMPULAN
DAN SARAN
Kesimpulan
Setiap
daerah memiliki budaya ternak sendiri, dalam hal pemeliharaan ternak, umumnya
penduduk yang diteliti masih memiliki kecendrungan untuk melepas saja
hewan-hewan ternak peliharaan mereka dipadang rumput pada siang hari. Pada desa
Tibona, Kec Bulukumpa, Kab. Bulukumba Sulawesi Selatan masyarakat daerah sana
masih menggunakan sistem kandang lalu dilepas dan di bawa ke kebun.
Saran
Dalam pemeliharaan sapi potong
sebaiknya dilakukan secara intensif untuk mempercepat menaikkan berat badan
sapi potong yang dipelihaara serta terhindar dari pencurian karena sapi mudah
dipantau keberadaannya.Dan Sebaiknya praktek lapang dilaksanakan sesuai dengan
lokasi dan keadaan praktek disesuaikan
dengan bidang ilmu dan potensi daerah yang ingin dikaji.
DAFTAR PUSTAKA
Abdullah
M. W. 2008. Sosiologi. Grasindo. Jakarta
Abidin
Z. 2008. Penggemukan Sapi Potong. PT AgroMediaPustaka. Jakarta.
Amsyah Z. 1997. Manajemen Sistem
Infomasi. PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
Daeng J. H. 2000. Manusia
Kebudayaan dan Lingkungan Tinjauan Antropologis. Pustaka Pelajar. Yogyakarta
Fikar S. dan Dadi R.. 2010.
Beternak & Bisnis Sapi Potong. PT AgroMedia Pustaka. Jakarta.
Gea A. A., dkk. 2005. Relasi dengan
Sesama. PT Elex Media Komputindo. Jakarta.
Kariyasa. 2005. Sapi Lokal.
Kanisius. Yogyakarta.
Kartodirdjo S. 1979. Masyarakat
Pedesaan dalam Pembangunan. Bintang Intervisi Utama. Yogyakarta
Leman. 1997. Metodologi
Pengembangan Sistem Informasi. PT Elex Media Komputindo. Jakarta
Liliweri A. 2007. Makna Budaya
dalam Komunikasi Antarbudaya. LKiS Yogyakarta. Yogyakarta.
Mundardjito. 2009. Sejarah Kebudayaan
Indonesia: Sistem Teknologi. PT Rajagrafindo Persada. Jakarta.
Murdiyatmoko
J. 2007. Sosiologi. Grafindo Media Pratama. Bandung
Murtidjo
B. A. 2012. Sapi Potong. Kanisius. Yogyakarta..
Soerprapto H. Dan Zainal A. 2006.
Cara Tepat Penggemukan Sapi Potong. PT AgroMedia Pustaka. Jakarta.
Sudarmono A.S dam Y. B. Sugeng.
2008. Sapi Potong. PT Penebar Swadaya. Jakarta.
Supriatna A.. 2005. Teman Belajar
Bahasa dan Sastra Indonesia. Pribui Mekar. Bandung.
Sumarto H. Sj. 2004. Demokratisasi
akar rumput: Gagasan dan Praktik. Akatiga. Bandung.
Sustrisno M. dan Hendar P. 2005.
Teori-Teori Kebudayaan. Kanisius. Yogyakarta.
Waluya
B. 2007. Sosiologi. PT Setia Purna Inves. Bandung.
West R. dan L. H. Turner. 2008.
Pengantar Teori Komunikasi. Salemba Humanika. Jakarta.
Yulianto P. dan Cahyo S.. 2010.
Pembesaran Sapi Potonng secara Intensif. Penerbar Swadaya. Jakarta.
Yuwanta
T. 2000. Dasar Ternak Unggas. Kanisius.
Yogyakarta.