Senin, 31 Agustus 2015

Laporan lengkap sosiologi peternakan



LAPORAN PRAKTEK LAPANG
SOSIOLOGI PETERNAKAN




ISMAH ULFIYAH AZIS                
TINAR SAPUTRA
YAYU YUNITA
SERDAM
LISNAWATI
AHMAD IDHAM NUR
EVI HASTRIANI ANGRAENI
WIRAWAN ANUGRAH PRATAMA
MARWAH
ALKISWAR
MARIYANI NURMEILANI
RIALDIE



FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2015

BAB I
PENDAHULUAN


Latar Belakang
Peternakan merupakan suatu kegiatan membudidayakan serta mengembangbiakkan hewan ternak  dengan maksud mendapatkan manfaat serta hasil dari kegiatan tersebut. Sebenarnya pengertian peternakan itu sendiri bukanlah sebatas pemeliharaan saja, namu terletak pula pada tujuan yang ditetapkan. Secara umum tujuan peternakan yaitu untuk mencari keuntungan berdasarkan prinsip-prinsip manajemen pada faktor produksi yang telah disatukan secara optimal. Pada masa kini, beternak sudah menjadi salah satu komoditif besar didunia dan mulai dikerjakan dengan berbagai macam teknologi untuk mencapai hasil maksimal.
 Peningkatan produktivitas peternakan melibatkan berbagai aspek yang saling berkaitan, baik itu lingkungan, manusia maupun ternak itu sendiri. Ketiga aspek melibatkan interaksi social antara manusia dengan lingkungan,  manusia dengan ternak maupun sebaliknya. Interaksi ini sudah lama dilakukan sejak manusia mulai mengenal system hunting and gathering. Sehingga kebudayaan berternak ini terus di wariskan kepada keturunan dan berkembang sampai sekarang.
Sejak jaman dulu, manusia telah mengenal beternak dan bercocok tanam untuk memenuhi kebutuhannya akan makanan. Maka dari itu, sistem kebudayaan dan peternakan saling berkaitan. Sistem kebudayaan merupakan ide dan gagasan manusia yang hidup bermasyarakat.  Ide manusia tersebut tidak terlepas melainkan berkaitan satu dengan lainnya dalam sebuah sistem. Oleh karena itu sistem budaya adalah salah satu bagian dari kebudayaan , yaitu adat istiadat yang didalamnya termasuk sistem norma, nilai budaya, dan semua norma yang hidup dan berkembang di masyarakat. Sehingga kebudayaan berternak ini terus di wariskan kepada keturunan dan berkembang sampai sekarang
Bahwa segala sesuatu dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dilmiliki oleh masyarakat itu sendiri. Masyarakat yang dimaksud disini lebih mengkhusus pada masyarakat peternakan. Budaya beternak yang telah turun temurun diwariskan dari generasi generasi memiliki ciri khas tersendiri dari berbagai daerah. Berdasarkan hal tersebut, maka dilaksanakanlah praktek lapang mengenai Sistem Kebudayaan Masyarakat Peternakan yang bertempat di desa Tibona Kec. Bulukumba Kabupaten Bulukumba.

Maksud dan Tujuan
Maksud dari diadakannya praktik lapang sosiologi peternakan adalah agar dapat mengetahui bagaimana sistem kebudayaan masyarakat peternakan sapi potong di desa Tibona Kecamatan Bulukumba Kabupaten Bulukumba mengenai sistem kebudayaan masyarakat peternakan sapi potong.
Tujuan diadakannya praktek lapang sosiologi peternakan adalah:
1.         Menambah pengetahuan tentang sistem kebudayaan masyarakat peternakan sapi potong.
2.         Mengetahui dan memahami sistem kebudayaan masyarakat peternakan sapi potong.
3.         Membandingkan dengan teori yang didapatkan dalam perkuliahan dengan praktek lapangan mengenai Sistem Kebudayaan dalam Masyarakat Peternakan Sapi Potong.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Tinjauan umum sapi potong
            Dari sejarahnya, semua bangsa sapi yang dikenal di dunia berasal dari Homacodontidae yang dijumpai pada zama Palaeocene. Adapun jenis primitifnya ditemukan pada zaman Pliocene di India, Asia. Perkembangan dari jenis-jenis primitive itulah yang samapai sekarang menghasilkan tiga kelompok nenek moyang sapi hasil penjinakan yang kita kenal (Murtidjo, 2012).
            Sejarah pemeliharaan sapid an perkembangan populasinya di Indonesia, terutama sapi potong, mengalami pasang surut yang fluktuatif. Hal ini dipengaruhi oleh berbagai kebijakan pemerintah dan kondisi perekonomian masyarakat secara global. Sejak zaman colonial Belanda, terutama sejak didirikan pabrik-pabrik gula (130-1835), telah dilakukan pemeliharaan sapi yang tujuan utamanya sebagai sumber tenaga kerja untuk menggarap lahan pertanian dan penarik kendaraan pengangkut tebu (Zainal Abidin, 2008).
            Sapi potong adalah sapi-sapi yang mempunyai kemampuan untuk memproduksi daging dengan cepat, pembentukan karkas baik dengan komposisi perbandingan protein dan lemak seimbang hingga umur (Kariyasa, 2005).
            Ternak sapi, khususnya sapi potong, merupakan salah satu sumber daya penghasil daging yang memiliki nilai ekonomi tinggi, dan penting artinya di dalam kehidupan masyarakat. Seekor atau kelompok ternak sapi bisa menghasilan sebagai macam kebutuhan, terutama sebagai bahan makanan berupa daging, di samping hasil ikutan lainnya seperti pupuk kandang, kulih, dan tulang (Sudarmono dan Sugeng, 2008)
Permintaan terhadap sapi potong dari tahun ke tahun terus meningkat. Sementara itu, pasokan sapi potong dari dalam negeri belum dapat memenuhi semua permintaan yang ada. Hal ini dapat dilihat dari program swasembada sapi potong yang seharusnya dicapai pada tahun 2010, dimundurkan menjadi tahun 2014. Mundurnya target ini jelas bermakna jumlah populasi sapi potong dalam negeri belum bisa memenuhi 90% dari kebutuhan konsumsi masyarakat Indonesia. Pemerintah sendiri terpaksa terus mengimpor sapi, terutama berupa bakalan sapi potong. Pasalnya, usaha pembibitan sapi di dalam negeri belum mampu memenuhi kebutuhan sapi bakalan untuk digemukkan ataupun dibibitkan kembali (Fikar dan Ruhyadi, 2010).
            Menurut Purnawan Yulianto dan Cahyo Saparinto, 2010 jenis sapi potong yang ada di Indonesia untuk usaha pembesaran. Untuk perbaikan kualitas sapi potong yang akan diternakkan, sebaiknya peternak harus mengetahui jenis-jenis sapi yang ada, baik sapi yang banyak di Indonesia sehingga banyak dijumpai di beberapa daerah di Indonesia.
            Di dalam negeri, pemeliharaan sapi potong  biasanya dilakukan secara tradisional. Sapi-sapi hanya diberi pakan seadanya tanpa memperhatikan jumlah dan kandungan zat gizi dalam pakan. Peternak juga tidak memperhatikan kebutuhan pakan sapi untuk pertumbuhan yang optimal. Akibatnya, pertambahan berat badan sapi yang dipelihara tidak optimal sudah cukup tinggi, seperti rumput gajah atau rumpu benggala. Namun, konsentrat yang diberikan bukanlah konsentrat yang sebenarnya, hanya berupa campuran ampas tahu dan dedak padi. Kedua bahan pakan tersebut harganya relative murah. Dengan pemberian bahan pakan ini, pertumbuhan sapi diharapkan bisa di pacu lebih cepat dan waktu pemeliharaan bisa dipersingkat (Soeprapto dan Abidin, 2006).
            Di luar negeri, penggemukan sapi dikenal dengan sistem pasture fattening, dry lot fattening dan kombinasi keduanya, sedangkan di Indonesia dikenal dengan sistem kereman atau sistem paron (Timor). Cara penggemukan sapi secara modern dilakukan dengan menggunakan prinsip feedlot, yaitu pemberian pakan sapi terdiri dari hijauan dan konsentrat yang berkualitas di dalam kadang (Soeprapto dan Abidin, 2006).
            Rendahnya kuliatas bakalan di Indonesia menjadi permasalahan tersendiri. Hal ini disebabkan pedet yang dihasilkan merupak hasil sampingan dari usaha penggemukan. Jumlah pedet yang dihasilkan khusus dari usaha pembibitan sangat sedikit. Jika peternak ingin bakalan berkualitas, harganya mahal karena harus diimpor dari luar negeri atau membeli dari perusahaan pembibitan sapi potong. Masalah ini dapat diatasi dengan mencoba membibitkan sendiri atau membeli bakalan berkualitas dari peternakan yang sudah sering membibitkan sapi (Fikar dan Dadi, 2010).
            Dalam usaha ternak sapi potongterjadi adanya segmentasi pada waktu pemeliharaan dan pemasaran produknya.hal ini kemungkinan dapat terjadi karena anakan sapi lahir hingga dewasa membutuhkan waktu pemeliharaan cukup lama, yaitu sekitar 2-3 tahun. Adanya segmentasi bisnis dalam proses produksi ternak sapi ini memberikan beberapa keuntungan, di antaranya resiko usaha dibagi kepada lebih banyak pihak yang berkecimpung dalam bisnis ternak sapi tersebut, waktu produksi lebih singkat, menggerakkan perekonomian local karena menumbuhkan lebih banyak pelaku usaha dan terjadi proses jual beli di antara mereka, dan bisnis sapi potong relative kuat dan tahan bantung menghadapi permasalahan ekonomi, baik mikro maupu makro (Purnawan dan Cahyo, 2010)
Pengertian Sosiologi
            Pada saat sosiologi masih dianggap sebagai ilmu yang bernaung di dalam filsafat dan disebut dengan nama filsafat social, materi yang dibahas tidak dapat dikatakan sebagai ilmu sosiologi yang dikenal seperti saat ini karena pada saat itu materinya masih mengandung unsure etika, yaitu materi tentang seharusnya masyarakat itu atau das sollen. Adapun sosiologi yang berkembang saait ini merupakan ilmu tentang bagaimana kenyataan masyarakat itu atau das sein. (Janu, 2007).
            Sosiologi berasal dari dua kata, yaitu socious dan logos. Socious berarti berteman dan logos berarti ilmu. Secara singkat dapat ditegaskan bahwa sosiologi, adalah ilmu tentang kehidupan bersama. Kehidupan bersama yang dimaksudkan dalam ilmu sosiologim adalah kehidupan bersama dalam masyarakat (Abdullah, 2008).
            Menurut August Comte sosioligi, adalah ilmu yang mempelajari struktur social (social statics) dan perubahan social (social dynamics). Meski keduanya dimaksudkan untuk menemukan kaidah hukum dalam kehidupan social, ia merasa bahwa perubahan social lebih penting daripada struktur social (Abdulllah, 2008).
            Menurut Abdullah, 2008 Berikut, beberapa definisi sosiologi yang dikemukanakan oleh beberapa Sosiolog dunia.
1.    Peter L. Berger menyatakan Sosiologi adalah  studi ilmiah mengenai hubungan antara masyarakat dan individu.
2.    Max Weber menyatakan Sosiologi adalah ilmu yang berhubungan dengan pemahanan interpretative mengenai tindakan social. Selain itu, berhubungan dengan suatu penjelasan kausal mengenai arah dan konsekuensi tindakan social itu.
3.    Auguste Comte menyatakan Sosiologi merupakan ilmu positif tentang masyarakat sehingga sosiologi menurutnya merupakan suatu ilmu yang bertujuan mengetahui masyarakat, dan dengan pengetahuan itu seseorang dapat menjeleskan, meramal, dan mengontrol masyarakat. Artinya, Sosiologi merupakan suatu studi  ilmiah tentang masyarakat.
4.    Emile Durkheim menyatakan Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari fakta social, dan fakta social bukanlah fakta individual. Fakta social adalah setiap cara bertindak yang umumnya terdapat dalam suatu masyarakat tertentu, yang sekaligus memiliki eksistensinya sendiri dengan cara dan dunianya sendiri, terlepas dari manifestasi-manifestasi individu, misalnya kebiasaan, peraturan, norma (hukum), dan masyarakat yang merupakan contoh fakta social paling besar dan umu.
5.    Pitirim A. Sorokin menyatakan Sosioogi adalah ilmu yang mempelajari:
a. Hubungan dan pengaruh timbal balik antaraneka macam gejala social, misalnya antara ekonomi dan agama serta keluarga dan moral;
b. Hubungan dan pengaruh timbale balik antara gejala social dan gejala nonsosial, misalnya antara gejala social dan gejala biologis;
c. cirri-ciri umum dari semua jenis gejala social.
6.    Roucek dan Warren menyatakan Sosiologi merupakan ilmu yang mempelajari hubungan antarmanusia dalam kelompok-kelompok.
7.    William F. Ogburn dan Meyer F. Nimkoff menyatakan Sosiologi adalah penelitian secara ilmiah terhadap interaksi social yang hasilnya, yaitu organisasi social.
8.    Selo Soemardjan dan Soelaeman Soemardi menyatakan Sosiologi merupakan ilmu yang mempelajari struktur social, proses-proses social dan perubahan social. Struktur social adalah keseluruhan jaringan antarunsur social yang pokok, yaitu kaidah-kaidah social (norma-norma social), lembaga-lembaga social, kelompok-kelompok serta lapisan-lapisan social. Adapun proses-proes social adalah pengaruh timbale balik antarberbagai segi kehidupan bersama, misalnya antara kehidupan ekonomi dan politik.
9.    Soerjono Soekanto menyatakan Sosiologi merupakan ilmu yang memusatkan perhatian pada segi-segi kemasyarakatan yang bersifat umum dan berusaha untuk mendapatkan pola-pola umum darinya.
10. William Kornblum menyatakan Sosiologi adalah suatu upaya ilmiah untuk mempelajari masyarakat dan perilaku social anggotanya dan menjadikan masyarakat yang bersangkutan dalam berbagai kelompok dan kondisi.
Isu-isu sistem kebudayaan
            Ketika masyarakat menjadi makin beragam dalam hal ras  dan etnis, isu-isu budaya dan identitas menjadi hal yang penting. Para peneliti telah menyerukan pencakupan keberagaman dalam definisi mengenai keluarga, dalam hubungan kencan dan di dalam politik.  Tetapi,, jauh lebih banyak perhatian dibutuhkan pada isu-isu mengenai keberagaman budaya dan ras. Mengubah struktur institusional yang ada saat ini untuk merangkul masyarakat yang lebih beragam, permasalahan bahasa dan nilai budaya saat tenaga kerja menjadi semakin beragam (West dan Turner, 2008)
            Setiap kebudayaan mengajarkan cara-cara tertentu untuk memproses informasi yang masuk dan keluar ’dari dan ke’ sekeliling mereka, misalnya mengatur bagaimana setiap anggota budaya memahami proses pertukaran informasi maupun kemasan informasi itu sendiri. Beberapa kebudayaan berhasil membangun suatu harapan ke dalam sistem mereka sehingga anggptanya otomatis mengetahuo apa yang harus dibuat untuk merespons informasi pada saat dan situasi yang tepat, sebaliknya barangkali kebudayaan lain tidak mempunyai asumsi ini. Beberapa kebudayaan juga tidak mewajibkan pada anggotanya suatu perhatian yang tinggi terhadap informasi, apalagi informasi itu bersifat rutin dan ritual, juga tentang bagaimana mereka harus berperilaku yang sama dalam menanggapi informasi. Artinya, ada pula kebudayaan yang mengajarkan cara-cara yang lebih praktis dalam meproses informasi, meskipun informasi itu dipertukarkan dalam sejumlah situasi yang berbeda-beda (Liliweri, 2007).
            Kata “kebudayaan” berasal dari bahasa Sanskerta buddhayah, bentuk jamak dari buddhi yang berarti “budi” atau “akal”. Jadi, secara sederhana kebudayaan dapat diartikan sebagai keseluruhan gagasan, karya, dan akal budi manusia yang diciptakannya dengan sengaja dan terus dikembangkan demi kepentinga, kebutuhan, kesejahteraan, kedamaian, kemakmuran, kepuasan hidupnya (Supriatna, 2005).
            Dalam studi budaya sebagai bidang akademis, “teori kebudayaan” dipahami sebagai bacaan atau studi yang bertujuan mengembangkan sarana atau alat untuk menjelaskan sifat-sifat, cirri-ciri kebudayaan, dan implikasinya pada kehidupan bermasyarakat. Secara garis besar ada tiga isu utama dalam bidang ini. Pertama, masalah isi di mana teori merupakan alat untuk memahami apa yang membentuk kebudayaan seperti nilai, aturan, narasi, ideology, patologi, wacana, akal sehat, dan banyak hal lain. Kedua, implikasi social, di mana teori berusaha menunjukkan model-model pengaruh kebudayaan terhadap struktur social dan kehidupan social. Ketiga, soal hubungan antara kebudayaan dan individu: antara tindakan/aksi, pelaku/agen, dan diri/ self (Sutrisni dan Putranto, 2005).
            Dalam pemikiran pluralism kebudayaan, setiap kebudayaan ditanggapi dan diakui keberadaanya sebagaimana adanya. Akibatnya, keanekaragaman kebudayaan adalah fakta, sedangkan dominannya suatu kebudayaan adalah akibat dari sifat-sifat intrinsic kebudayaan tersebut. Jika isu dan persoalan global seperti demokrasi dan hak asasi manusia dihadapkan pada pendekatan pluralism kebudayaan, maka tampak keduanya berada pada kedudukan yang tak sejalan (Sumarto, 2004).
            Stella Ting-Toomey dan Leeva Chung (1996) menyatakkan bahwa identitas merupakan isu yang bermakna untuk berteori dalam bidang komunikasi di masa depan. Mereka melihat bahwa dengan adanya banyak pernikahan lintas budaya di Amerika Serikat. Lebih jauh lagi, mereka mengamati bahwa isu dender dan identitas etnis membutuhkan lebih banyak kerangka konseptual (West dan Turner, 2008).
            Masyarakat pedesaan di Indonesia bisa dikatakan sebagai masyarakat petani, dan di dalamnya termasuk mereka berkecimpung di bidang peternakan. Walaupun telah terjadi pergeseran-pergeseran dalam sector pekerjaan, basis utamanya masih didominasi oleh kegiatan pertanian. Masyarakat pedesaan yang agraris sering digambarkan sebagai masyarakat dengan budaya tertutup. Berbudaya homogeny serta adanya dominasi ikatan tradisional dengan struktur supra desa yang bersifat feudal dan kolonial (Kuntowijoyo, 1993).
Manfaat Sistem Kebudayaan
            Sistem budaya merupakan komponen dari kebudayaan yang bersifat abstrak dan terdiri dari pikiran,gagasan,konsep, serta keyakinan dengan demikian Sistem Kebudayaan merupakan bagian dari kebudayaan yang dalam bahasa indonesia disebut Adat Istiadat. Dalam adat istiadat terdapat sistem norma dan di situlah fungsi Sistem Budaya adalah menata serta menetapkan tindakan dan tingkah laku manusia (Daeng, 2000).
Sistem adalah sekumpulan unsur / elemen yang saling berkaitan dan saling mempengaruhi dalam melakukan kegiatan bersama untuk mencapai suatu tujuan.
Suatu sistem terdiri dari komponen yang saling berinteraksi , artinya saling bekerja sama membentuk satu kesatuan. Komponen - komponen dari suatu sistem biasanya dikenal dengan subsistem (Amsya, 1997).
Subsistem ini mempunyai sifat-sifat dari sistem itu sendiri dalam menjalankan suatu fungsi tertentu dan mempengaruhi proses sistem secara keseluruhan. Suatu sistem juga mempunyai sistem yang lebih besar yang dikenal dengan Suprasistem (Amsya, 1997).
Menurut Amsya (1997) pada prinsipnya, setiap sistem selalu terdiri atas empat elemen:
1.         Objek, yang dapat berupa bagian, elemen, ataupun variabel. Ia dapat benda fisik, abstrak, ataupun keduanya sekaligus; tergantung kepada sifat sistem tersebut.
2.         Atribut, yang menentukan kualitas atau sifat kepemilikan sistem dan objeknya.
3.         Hubungan internal, di antara objek-objek di dalamnya.
4.         Lingkungan, tempat di mana sistem berada.
Menurut Leman, 1997 Ada beberapa elemen yang membentuk sebuah sistem, yaitu : tujuan, masukan, proses, keluaran, batas, mekanisme pengendalian dan umpan balik serta lingkungan. Berikut penjelasan mengenai elemen-elemen yang membentuk sebuah sistem :
1.    Tujuan; Setiap sistem memiliki tujuan (Goal), entah hanya satu atau mungkin banyak. Tujuan inilah yang menjadi pemotivasi yang mengarahkan sistem. Tanpa tujuan, sistem menjadi tak terarah dan tak terkendali. Tentu saja, tujuan antara satu sistem dengan sistem yang lain berbeda.
2.    Masukan; Masukan (input) sistem adalah segala sesuatu yang masuk ke dalam sistem dan selanjutnya menjadi bahan yang diproses. Masukan dapat berupa hal-hal yang berwujud (tampak secara fisik) maupun yang tidak tampak. Contoh masukan yang berwujud adalah bahan mentah, sedangkan contoh yang tidak berwujud adalah informasi (misalnya permintaan jasa pelanggan).
3.    Proses; Proses merupakan bagian yang melakukan perubahan atau transformasi dari masukan menjadi keluaran yang berguna dan lbih bernilai, misalnya berupa informasi dan produk, tetapi juga bisa berupa hal-hal yang tidak berguna, misalnya saja sisa pembuangan atau limbah. Pada pabrik kimia, proses dapat berupa bahan mentah. Pada rumah sakit, proses dapat berupa aktivitas pembedahan pasien.
4.    Keluaran; Keluaran (output) merupakan hasil dari pemrosesan. Pada sistem informasi, keluaran bisa berupa suatu informasi, saran, cetakan laporan, dan sebagainya.
5.    Batas; Yang disebut batas (boundary) sistem adalah pemisah antara sistem dan daerah di luar sistem (lingkungan). Batas sistem menentukan konfigurasi, ruang lingkup, atau kemampuan sistem. Sebagai contoh, tim sepakbola mempunyai aturan permainan dan keterbatasan kemampuan pemain. Pertumbuhan sebuah toko kelontong dipengaruhi oleh pembelian pelanggan, gerakan pesaing dan keterbatasan dana dari bank. Tentu saja batas sebuah sistem dapat dikurangi atau dimodifikasi sehingga akan mengubah perilaku sistem. Sebagai contoh, dengan menjual saham ke publik, sebuah perusahaan dapat mengurangi keterbasatan dana.
6.    Mekanisme Pengendalian dan Umpan Balik; Mekanisme pengendalian (control mechanism) diwujudkan dengan menggunakan umpan balik (feedback), yang mencuplik keluaran. Umpan balik ini digunakan untuk mengendalikan baik masukan maupun proses. Tujuannya adalah untuk mengatur agar sistem berjalan sesuai dengan tujuan.
7.    Lingkungan; Lingkungan adalah segala sesuatu yang berada diluar sistem. Lingkungan bisa berpengaruh terhadap operasi sistem dalam arti bisa merugikan atau menguntungkan sistem itu sendiri. Lingkungan yang merugikan tentu saja harus ditahan dan dikendalikan supaya tidak mengganggu kelangsungan operasi sistem, sedangkan yang menguntungkan tetap harus terus dijaga, karena akan memacu terhadap kelangsungan hidup sistem.

Kebudayaan Masyarakat Peternakan
Pola mata pencarian beternak akan memengaruhi tipe dari sosial budaya masyarakat yang melakukannya, dan ini tergambar pada bagaimana teknologi yang dipakai melalui kebudayaannya dan terwujud dalam pranata sosial beternak ketika beradaptasi dengan lingkungan yang ada. Masyarakat peternak di Indonesia pada dasarnya lebih didominasi oleh masyarakat-masyarakat peternak di Indonesia pada dasarnya lebih  didominasi oleh masyarakat-masyarakat dsidi daerah Nusa Tenggara (Mundardjito, 2009)
Tidak banyak orang tahu bagaimana sebenarnya pola hidup masyarakat peternak ini yang mempunyai sistem teknologi yang spesifik dan sangat unik, berbeda dengan tipe sosial budaya masyarakat lainnya. Biasanya kehidupan masyarakat dengan tipe sosial budaya peternak ini hidup dalam lingkungan alam yang luas dan terbuka sesuai dengan gambaran sebuah peternakan. Daerah atau lingkungan alam dari masyarakat peternak ini berupa ladang rumput yang luas, yang pada dasarnya tidak dapat dipergunakan untuk menjalankan sistem mata pencarian lainnya selain dari beternak. Disini yang dijadikan contoh masyarakat beternak adalah orang Bima (Mundardjito, 2009).
Menurut Mundardjito (2009), di Indonesia, masyarakat yang menggantungkan hidupnya dari usaha beternak dengan prinsip mengambil sesuatu dari hewan yang dipelihara untuk kebutuhan hidupnya sebagai mata pencarian mereka, dapat digolongkan ke dalam beberapa kategori, seperti :
1.         Mengusahakan ternak dengan menggembalakannya sesuai dengan lokasi lahan di mana terdapat pakan ternaknya, sehingga kehidupan masyarakat yang bersangkutan mengikuti pergerakan ternaknya.
2.         Mengusahakan ternak dengan mengandangkannya untuk kemudian memanfaatkan sesuatu dari hewan ternak tersebut, serta menjualnya sebagai barang dagangan.
3.         Mengusahakan ternak guna pelengkap dari suatu mata pencarian pokok lainnya.








BAB III
METODOLOGI PRAKTEK LAPANG

Waktu dan tempat
            Praktek lapang sosiologi peternakan mengenai sistem kebudayaan dalam masyarakat peternakan sapi potong di laksanakan pada har Jumat-Minggu, pada tanggal 3-5 April 2015 di Desa Tibona, Kec Bulukumpa, Kab Bulukumba, Sulawesi Selatan.
Jenis dan Sumber Data
            Data yang digunakan dalam praktek lapang sosiologi peternakan mengenai sistem kebudayaan dalam masyarakat peternakan sapi potong
1.  Data Kuantitatif
Data kuantitatof yaitu data yang berbentuk pernyataan/kalimat yang menggambarkan dan menjelaskan indikator-indikator  dari peternakan sapi potong yang di amati.
2.  Data Kualitatif
Data kualitatif adalah data yang berbentuk kata-kata, kalimat, dan tanggapan yang berhubungan dengan penelitian.
            Adapun sumber data yang digunakan pada praktek lapang sosiologi peternakan mengenai sistem kebudayaan dalam masyarakat peternakan sapi potong adalah
1.  Data primer
Data primer merupakan data yang bersumber dari hasil wawancara kuisioner.

2.  Data sekunder
Data sekunder yaitu data yang bersumber dari dokumen, buku serta laporan-laporan yang berkaitan dengan praktek lapang.
Motode Pengambilan Data
            Adapun metode pengambilan data dalam praktek lapang sosiologi peternakan mengenai sistem kebudayaan masyarakat sapi potong yaitu dengan cara
a. Observasi
Observasi yaitu pengambilan data yang di lakukan melalui pengamatan langsung terhadap objek yang akan dilakukan.
b. Wawancara
Wawancara yaitu melakukan wawancara langsung dengan pihak masyarakat mengenai variable;-variabel penelitian dan menggunakan bantuan kuisioner.
c. Study Kepustakaan
Study kepustakaan yaitu berdasarkan beberpa buku sebagai literature dan landasan teori yang berhubungan dengan praktik ini.
Kegiatan yang dilakukan
            Adapun kegiatan-kegiatan yang dilakukan selama praktek lapang sosiologi peternakan mengenai sistem kebudayaan masyarakar sapi potong yaitu:
a. Kuisioner
Kuisioeer yaitu kegiatan wawancara dan Tanya jawab scara langsung dengan peternak dengan pertanyaan—pertanyaan yang telah disiapkan terlebih dahulu.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN


Profil Wilayah dan Gambaran Kondisi Wilayah
Administrasi Wilayah
            Berdasarkan data sekunder praktek lapang  sosiologi peternakan mengenai sistem kebudayan masyarakat sapi potong di Desa Tibona Kec. Bulukumpa, Kab. Bulukumba, Sulawesi Selatan di peroleh data administrasi wilayah seperti berikut:
1.    Ulu Galung
2.    Montosumanga
3.    Padang mallabo
4.    Tibona
5.    Sumpangak
6.    Mattoanging
                                                                                                   
Kondisi Geografis
            Berdasarkan data sekunder  praktek lapang sosiologi peternakan mrngenai sistem kebudayaan masyarakat sapi potong, Desa Tibona berada pada batas Sebelah Utara yang bersebelahan dengan Kabupaten Sinjai, Sebelah selatan yaitu Desa Bontominasa kecamatan Bulukumpa, Sebelah timur yaitu Desa Sangkala kecamatan Kajang, dan Sebelah Barat kelurahan jawi-jawi kecamatan Bulukumpa.
Potensi Sumber Daya Alam
            Berdasarkan data sekunder praktek lapang sosiologi peternakan mengenai sistem kebudayaan masyarakat sapi potong di Desa Tibona, Kec Bulukumpa, Kab. Bulukumba, Sulawesi Selatan di peroleh data potensi sumber daya alam seperti pada tabel berikut
Tabel 1 Identitas Responden
No.
Jenis Potensi
Jumlah/Volume
1
Luas perkebunan
1,408 Ha/m²
2
Luas pemukiman
5,250 Ha/m²
3
Luas persawahan
171,86 Ha/m²
4
Luas kuburan
4,25 Ha/m²
5
Luas pekarangan
0,29 Ha/m²
6
Pengkantoran
3,60 Ha/m²
7
Luas prasarana umum lainnya
12,75 Ha/m²
Sumber: Data sekunder praktek lapang sosiologi peternakan, 2015.

            Berdasarkan tabel 1 di atas dapat di ketahui bahwa jenis potensi sumber daya alam yang terdapat di Desa Tibona Kec. Bulukumpa, Kab. Bulukumba, Sulawesi Selatan terdiri atas luas pemukiman 5,250 ha/m2, persawahan seluas 171,86 ha/m2 , perkebunan seluas 1,408 ha/m2, kuburan seluas 425 ha/m2, pekarangan seluas 0,29 ha/m2, perkantora seluas 3,60 ha/m2 dan luas prasaran umum lainnya 12,75 ha/m2.
Kondisi Ekonomi
            Berdasarkan data sekunder praktek lapang sosiologi peternakan mengenai sistem kebudayaan masyarakat sapi potong, Desa Tibona, Kec. Bulukumpa, Kab. Bulukumba, Sulawesi Selatan di ketahui bahwa kondisi social ekonomi di wilayah setempat tergolong sebagai wilayah agraris yang mayoritas wilayahnya terdiri dari hamparan areal persawahan yang luasnya mencapai kurang lebih171,86 ha/m2. Kondisi alam yang seperti ini membawa dampak pada perekonomian yang di dominasi oleh sector pertanian dan perkebunan. Meskipun begitu, terdapat beberapa pendudukan yang berkerja di sector lain misalnya sebagai buruh, tukang, pegawai negeri/sipil/swasta,  untuk menambah penghasilan masyarakat, keluarga dan ibu rumah tangga.
Kondisi Sosial Budaya
            Berdasarkan data sekunder praktek lapang sosiologi peternakan mengenai sistem kebudayaan masyarakat sapi potong di ketahui bahwa jumlah penduduk di Desa Tibona Kec. Bulukumpa, Kab. Bulukumba, Sulawesi Selatan.
Tabel 2 Identitas Responden
No
Penduduk
Persentasi (%)
1.
Laki-laki
39,56
2.
Perempuan
38,30
3.
Kepala Keluarga
22,16
Sumber: Data sekunder praktek lapang sosiologi peternakan, 2015.
Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin
            Berdasarkan data sekunder praktek lapang sosiologi peternakan mengenai sistem kebudayaan masyarakat peternakan sapi potong di ketahui bahwa jumlah penduduk berdasarkan jenis kelamin di Desa Tibona, Kec. Bulukumpa, Kab. Bulukumba, Sulawesi Selatan di ketahui seperti pada table berikut
Tabel 3 Identitas Responden
No
Jenis Kelamin
Jumlah Penduduk
Persentase (%)
1.
Laki-laki
2060
50,814%
2.
Perempuan
1994
49,185%
Jumlah
4054
100%
Sumber: Data sekunder praktek lapang sosiologi peternakan, 2015.
            Berdasarkan tabel 3 di atas maka dapat diketahui bahwa jumlah penduduk berdasarkan jenis kelamin di Desa Tibona, Kec. Bulukumpa, Kab. Bulukumba, Sulawesi Selatan di dominasi oleh laki-laki yaitu sebanyak 2060 jiwa dengan persentase sebesar 50,814% sedangkan penduduk berjenis kelamin perempuan hanya 1994 jiwa dengan persentase sebesar 49,185%.


Jumlah Penduduk Berdasarkan Tingkat Mata Pencaharian
            Berdasarkan data sekunder praktek lapang sosiologi peternakan mengenai sistem kebudayaan masyarakat peternakan sapi potong di ketahui bahwa jumlah penduduk berdasarkan tingkat mata pencaharian di Desa Tibona, Kec. Bulukumpa, Kab. Bulukumba, Sulawesi Selatan di ketahui seperti pada tabel berikut:
Tabel 4 Identitas Responden
No.
Mata Pencaharian
Jumlah
Persentase (%)
1.
Petani
1000
43,308
2.
Pegawai Negeri Sipil
30
1,299
3.
Pedagang Keliling
2
0,086
4.
Peternak
202
8,748
5.
Pembantu Rumah Tangga
1000
43,308
6.
TNI
2
0,086
7.
POLRI
6
0,259
8.
Pensiunan PNS/TNI/POLRI
10
0,433
9.
Pengusaha Kecil dan Menengah
3
0,129
10.
Dukun Kampung Terlatih
2
0,086
11.
Karyawan Perusahaan Swasta
52
2,252







Sumber: Data sekunder praktek lapang sosiologi peternakan, 2015.
            Berdasarkan tabel 4 di atas maka dapat diketahui bahwa tingkat mata pencaharian yang paling banyak  adalah petani dan pembantu rumah tangga sebanyak masing-masing 1000 orang dengan persentase 43,308% sedangkan mata pencaharian yang paling sedikit adalah pedagang keliling, TNI, dan dukun kampong terlatih sebanyak masing-masing 2 orang dengan persentase 0,086%. Berdasarkan hal tersebut maka dapat diketahui bahwa kondisi demografi sangat mempengaruhi tingkat mata pencaharian penduduk wilayah tersebut, yang mana kondisi wilayah di dominasi persawahan, menjadikan pekerjaan petani menjadi mata pencaharian yang paling banyak dijalankan oleh masyarakat Desa Tibona, Kec. Bulukumpa, Kab. Bulukumba, Sulawesi Selatan.
Jumlah Penduduk Berdasarkan Tingkat Pendidikan
            Berdasarkan data sekunder praktek lapang sosiologi peternakan mengenai sistme kebudayaan masyarakat peternakan sapi potong di ketahui bahwa jumlah penduduk berdasarkan tingkat pendidikan di Desa Tibona, Kec. Bulukumpa, Kab. Bulukumba di ketahui seperti pada tabel berikut:
Tabel 5 Identitas Responden
No
Tingkat Pendidikan
Jumlah Penduduk
Persentase (%)
1.
Tidak sekolah/Tidak tammat SD
1.406
38.9
2.
Sekolah Dasar
1.310
36.2
3.
SMP
500
13.8
4.
SMA
300
8.3
5.
D-2
1
0.02
6.
D-3
2
0.04
7.
S-1
88
2.41
8.
S-2
3
0.08
Sumber : Data sekunder praktek lapang sosiologi peternakan, 2015
            Berdasarkan tabel 5 diatas maka dapat diketahui bahwa masyarakat Dsekuesa data Tibona, Kec. Bulukumpa, Kab. Bulukumba Sulawesi Selatan tingkat pendidikan yang paling banyak adalah tamat SD/sederajat  yaitu sebanyak 860 orang dengan persentase 23,62% sedangkan yang paling sedikit yaitu D-2/sederajat dengan persentase 0,027%. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat  pendidikan di Desa Tibona Kec. Bulukumpa, Kab. Bulukumba masih tergolong rendah karena mayoritas penduduknya hanya tamat SD/sederajat.



Keadaan Khusus Responden
Identifikassi Responden Berdasarkan Umur
Tabel 6 Identitas Responden
No.
Nama
Umur ( Tahun )
1.
Amri

2.
A. Ashal

3.
Haeruddin

4.
Muslimin

5.
6.
Sudirman

Munir

7.
Rami

8.
ferawati

9.
Hasma

10.
Jamaluddin

11.
Rahmat

12.
Sardi

13.
Ismail

14.
Askn

15.
Amnur

16.
Asri

17.
Fitri

18.
Baharuddin

19.
Asri

20.
Rahmatia

21.
Imbacu

22.
Wardi

23.
Hasna

24.
Haris la hendra

25.
Suhardi

26.
Abd. Gani

27.
Ramlia

28.
Asyra

29.
Ramlah

30.
Aki Paroo’

31.
Hamili

32.
A. Ramli

33.
Antuk

34.
Evi

35.
Baji’

36.
Raano

37.
Coke’

38.
Rapido

39.
Syamsuddin

40.
Masna

Identifikasi Responden Berdasarkan Jenis kelamin



Tabel 7 Identitas Responden
No.
Nama
Jenis Kelamin
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
Amri
A. Ashal
Haeruddin
Muslimin
Sudirman
Munir
Rami’
Ferawati
Hasma
Jamaluddin
Rahmat
Sardi
Ismail
Askin
Amnur
Asri
Fitri
Baharuddin
Asri
Rahmatia
Imbacu
Wardi
Hasna
Haris La Hendra
Suhardi
Abd. Gani
Ramlia
Asyra
Ramlah
Aki paro’
Hamili
A. Ramli
Antuk
Evy
Baji
Rano
Coke’
Rapido
Syamssuddin
Masna
L
L
L
L
L
L
P
P
P
L
L
L
L
L
L
L
L
L
L
P
L
L
P
L
L
L
P
P
P
L
L
L
L
P
P
L
L
P
L
P
Sumber : Data sekunder Praktek lapang Sosiologi Peternakan, 2015.
Berdasarkan data sekunder prktek lapang sosiologi peternakan identifikasi resonden berdasarkan jenis kelamin di dapatkan responden yang paling banyak adalah laki-laki dengan jumlah 29 orang dan yang paling sedkit adalah perempuan dengan jumlah 12 orang.
Identifikasi responden berdasakan mata pencaharian
Tabel 8 Identitas Responden
No.
Nama
Mata Pencaaharian



1.
Amri
Pegawai
2.
A. Ashal
Petani
3.
Haeruddin
Petani
4.
Muslimin
Petani
5.
6.
Sudirman
Munir
Petani
Petani
7.
Rami
petani
8.
ferawati
Berkebun
9.
Hasma
URT
10.
Jamaluddin
Petani
11.
Rahmat
pengusaha
12.
Sardi
karyawan
13.
Ismail
petani
14.
Askin
Petani karet
15.
Amnur
Petani karet
16.
Asri
Peternak
17.
Fitri
URT
18.
Baharuddin
Petani
19.
Asri
Petani
20.
Rahmatia
URT
21.
Imbacu
Petani
22.
Wardi
Perkebunan
23.
Hasna
URT
24.
Haris la hendra
Peternak
25.
Suhardi
Peternak
26.
Abd. Gani
Peternak
27.
Ramlia
URT
28.
Asyra
Petani
29.
Ramlah
Bangunan
30.
Aki Paroo’
Petani
31.
Hamili
Karyawan swasta
32.
A. Ramli
Petani
33.
Antuk
Petani
34.
Evi
URT
35.
Baji’
Petani
36.
Raano
Petani
37.
Coke’
Petani
38.
Rapido
Petani
39.
Syamsuddin
Petani
40.
Masna
Tukang Batu



Sumber : Data sekunder Praktek Lapang sosiologi peternakan, 2015.
            Berdasarkan data sekunder praktek lapang sosiologi peternakan identifikasi responden berdasarkan mata pencaharian yang paling banyak mata pencaharian responden adalah petani sedangkan yang paling sedikit adalah pengusaha.  
Identifikasi Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan
Tabel 9 Identitas Responden
No.
Nama
Tingkat Pendidikan



1.
Amri
S-1
2.
A. Ashal
SLTP
3.
Haeruddin
SD
4.
Muslimin
SD
5.
6.
Sudirman
Munir
SLTP
-
7.
Rami
SD
8.
ferawati
SD
9.
Hasma
SD
10.
Jamaluddin
SLTP
11.
Rahmat
D-3
12.
Sardi
SLTP
13.
Ismail
SD
14.
Askn
SLTP
15.
Amnur
SLTP
16.
Asri
SLTP
17.
Fitri
SD
18.
Baharuddin
SLTP
19.
Asri
SDD
20.
Rahmatia
SLTP
21.
Imbacu
-
22.
Wardi
SLTP
23.
Hasna
SD
24.
Haris la hendra
SLTP
25.
Suhardi
SLTP
26.
Abd. Gani
-
27.
Ramlia
SLTP
28.
Asyra
SD
29.
Ramlah
SLTP
30.
Aki Paroo’
SD
31.
Hamili
SLTP
32.
A. Ramli
SLTP
33.
Antuk
S-1
34.
Evi
SD
35.
Baji’
-
36.
Rano
SLTP
37.
Coke’
-
38.
Rapido
SLTP
39.
Syamsuddin
SLTP
40.
Masna
SD



Gambaran Umum Responden
            Berdasarkan praktek lapang sosiologi peternakan yang telah dilaksanakan di Desa Tibona Kec. Bulukumpa, Kab. Bulukumba, Sulawesi Selatan di ketahui identitas responden seperti pada tabel berikut:
Tabel 10 Identitas Responden
NO
Nama
Umur
Jenis Kelamin
Pedidikan
Pekerjaan
1.
Aki Paro
70
L
Tamat SD
Petani
2.
Rahmatia
42
P
Tamat SLTP
Ibu Rumah Tangga
3.
Baji
38
P
Tidak sekolah
Petani
4.
Antu
48
L
Tamat SLTP
Petani
5.
Asri
49
P
Tamat SD
Buruh
Sumber: Data sekunder praktek lapang sosiologi peternakan, 2015.
            Berdasarkan tabel 10 di atas maka dapat di ketahui bahwa 5 dari responden usia paling muda adalah 38 tahun dan paling tua adalah 70 tahun. Berdasarkan 5 responden terdapat 2 laki-laki  dan 3 perempuan dengan tingkat pendidikan antara SD dan SLTP. Dengan mayoritas penduduk bekerja  sebagai petani, sedangkan beternak hanya sebagai sampingan.
Kajian Sistem Kebudayaan dalam Masyarakat Peternakan
Bentuk dan Kegiatan dari Kebudayaan Masyarakat Peternakan
            Berdasarkan hasil wawancara kepada masyarakat peternak Desa Tibona, Kec. Bulukumpa, Kab. Bulukumba, Sulawesi Selatan di peroleh hasil pendanaan dari peternak tersebut adalah


Tabel 11 Pola Pendanaan
No
Pola Pendanaan               
Jumlah Responden
1
2
3
4
5
Pribadi
Pinjam dari keluarga
Hibah/Bantuan Pemerintah
Pinjaman Swasta
Teseng/ Sitem kerjasama
25
-
4
1
-
           
            Berdasarkan hasil wawancara kepada peternak Desa Tibona, Kec. Bulukumpa, Kab. Bulukumba, Sulawesi Selatan di peroleh hasil sistem pemeliharaan yang dilakukan seperti pada tabel berikut:
Tabel 12 Identitas Responden
No
Sistem Pemeliharaan
Jumlah Responden
1
Intensif
13
2
Semiintensif
17
3
Tradisional
-

Pembagian Sistem Pertanggung Jawaban
            Berdasarkan hasil wawancara dari 41 responden  peternak Desa Tibona, Kec. Bulukumpa, Kab. Bulukumba, Sulawesi Selatan, di peroleh hasil bahwa dalam pemeliharaan sapi potong tidak ada sistem pembagian pertanggung jawaban melainkan pemeliharaan dilakukan secara pribadi.
            Berdasarkan hasil wawancara kepada peternak Desa Tibona, Kec. Bulukumpa, Kab. Bulukumba, Sulawesi Selatan,  di peroleh hasil bagaimana integrasi yang dilakukan seperti pada tabel berikut

Tabel 13 Identitas Responden
NO
Integrasi
Jumlah Responden



1
Integrasi
2
2
Tidak Integrasi
28


            Berdasarkan hasil wawancara kepada peternak Desa Tibona, Kec. Bulukumpa, Kab. Bulukumba, Sulawesi Selatan bahwa dari data responden di ketahui bahwa ketika pemasaran hasil produk peternakan pembeli akan datang sendiri untuk menawarkan membeli sapi ada juga yang pemilik sapi yang langsung menawarkan kepada pembeli.
Pengaruh Sistem Kebudayaan Masyarakat Peternakan
            Berdasarkan dari hasil wawancara masyarakat peternak Desa Tibona, Kec. Bulukumpa, Kab. Bulukumba di peroleh hasil bahwa hanya terdapat 2 dari beberapa responden yang di wawancarai yang  melakukan integrasi terhadap hewan ternaknya, mereka menggunakan sapi mereka untuk membajak di sawah.

Peran Masyarakat dalam Meningkatkan Sistem Kebudayaan
            Berdasarkan dari hasil wawancara masyarakat peternak Desa Tibona, Kec. Bulukumpa, Kab. Bulukumba di peroleh hasil bahwa hanya ada beberapa dari responden yang bergabung dengan organisasi yang terdapat di Desa Tibona dan semuanya hanya sebagai anggota.












BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN


Kesimpulan
Setiap daerah memiliki budaya ternak sendiri, dalam hal pemeliharaan ternak, umumnya penduduk yang diteliti masih memiliki kecendrungan untuk melepas saja hewan-hewan ternak peliharaan mereka dipadang rumput pada siang hari. Pada desa Tibona, Kec Bulukumpa, Kab. Bulukumba Sulawesi Selatan masyarakat daerah sana masih menggunakan sistem kandang lalu dilepas dan di bawa ke kebun.

Saran
            Dalam pemeliharaan sapi potong sebaiknya dilakukan secara intensif untuk mempercepat menaikkan berat badan sapi potong yang dipelihaara serta terhindar dari pencurian karena sapi mudah dipantau keberadaannya.Dan Sebaiknya praktek lapang dilaksanakan sesuai dengan lokasi dan keadaan praktek  disesuaikan dengan bidang ilmu dan potensi daerah yang ingin dikaji.
















DAFTAR PUSTAKA

Abdullah M. W. 2008. Sosiologi. Grasindo. Jakarta
Abidin Z. 2008. Penggemukan Sapi Potong. PT AgroMediaPustaka. Jakarta.
Amsyah Z. 1997. Manajemen Sistem Infomasi. PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
Daeng J. H. 2000. Manusia Kebudayaan dan Lingkungan Tinjauan Antropologis. Pustaka Pelajar. Yogyakarta
Fikar S. dan Dadi R.. 2010. Beternak & Bisnis Sapi Potong. PT AgroMedia Pustaka. Jakarta.
Gea A. A., dkk. 2005. Relasi dengan Sesama. PT Elex Media Komputindo. Jakarta.
Kariyasa. 2005. Sapi Lokal. Kanisius. Yogyakarta.
Kartodirdjo S. 1979. Masyarakat Pedesaan dalam Pembangunan. Bintang Intervisi Utama. Yogyakarta
Leman. 1997. Metodologi Pengembangan Sistem Informasi. PT Elex Media Komputindo. Jakarta
Liliweri A. 2007. Makna Budaya dalam Komunikasi Antarbudaya. LKiS Yogyakarta. Yogyakarta.
Mundardjito. 2009. Sejarah Kebudayaan Indonesia: Sistem Teknologi. PT Rajagrafindo Persada. Jakarta.
Murdiyatmoko J. 2007. Sosiologi. Grafindo Media Pratama. Bandung
Murtidjo B. A. 2012. Sapi Potong. Kanisius. Yogyakarta..
Soerprapto H. Dan Zainal A. 2006. Cara Tepat Penggemukan Sapi Potong. PT AgroMedia Pustaka. Jakarta.
Sudarmono A.S dam Y. B. Sugeng. 2008. Sapi Potong. PT Penebar Swadaya. Jakarta.
Supriatna A.. 2005. Teman Belajar Bahasa dan Sastra Indonesia. Pribui Mekar. Bandung.
Sumarto H. Sj. 2004. Demokratisasi akar rumput: Gagasan dan Praktik. Akatiga. Bandung.
Sustrisno M. dan Hendar P. 2005. Teori-Teori Kebudayaan. Kanisius. Yogyakarta.
Waluya B. 2007. Sosiologi. PT Setia Purna Inves. Bandung.
West R. dan L. H. Turner. 2008. Pengantar Teori Komunikasi. Salemba Humanika. Jakarta.
Yulianto P. dan Cahyo S.. 2010. Pembesaran Sapi Potonng secara Intensif. Penerbar Swadaya. Jakarta.
Yuwanta T.  2000. Dasar Ternak Unggas. Kanisius. Yogyakarta.